Bangkit dan Omset Meledak Setelah Terkena Gempa

By on June 18, 2010

Bagaimana jika tiba-tiba usaha yang anda bangun bertahun-tahun hancur dalam waktu tidak sampai satu jam? Anda bisa membayangkannya kan? Itulah yang dialami pengusaha muda sukses, Ferri Iskandar, pemilik toko sepatu adventure “The Trekkers”.

Setelah bertahun-tahun ia merintis usaha pertamanya, tahun 2006 gempa bumi meluluhlantakkan Jogja bagian selatan dan membuat usahanya hancur lebur.

Saya mengenal beliau 1,5 tahun yang lalu. Waktu itu kami berdiskusi tentang internet marketing. Sejak itulah saya sedikit banyak tahu kisah jatuh bangunnya beliau dalam membangun sebuah bisnis.

Pada waktu terjadi gempa,  Ferri mencoba untuk tetap sabar dan mengalihkan pikirannya sejenak dari semua masalah yang sedang melilit usahanya. Ia membangun posko bantuan bagi korban gempa.

Setelah kondisi pasca gempa berangsur-angsur mulai normal, Ferri mulai teringat lagi kondisi usahanya yang sedang dilanda masalah akibat gempa. Ia merasa bahwa bidang yang digelutinya sudah tidak bisa lagi memberikan jalan untuk pencapaian keinginannya yang lebih tinggi.

Dengan kondisi ekonomi yang terus menerus merosot, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja. Sempat beberapa kali ia pindah kerja dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Tapi tetap saja kesimpulannya sama. Dunia pekerjaan tidak bisa lagi mengakomodir cita-citanya yang terus berkembang.

Setelah bergelut dengan keragu-raguan apakah ia bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup dan berhasil dalam dunia wirausaha, akhirnya Ferri membulatkan tekad untuk meninggalkan zona kenyamanan hidupnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mendapatkan gaji bulanan, keluar dari pekerjaannya, mulai membangun bisnis.

Dan jenis usaha yang dipilihnya adalah berjualan sepatu. Ferri melihat bahwa trading atau berdagang bisa hanya berbekal katalog produk. Ia juga punya produk unggulan, yaitu “sepatu trekking” yang diperolehnya dari luar negeri.

Kemudian ia melihat bahwa permintaan pasar mengarah ke produk-produk umum adventure. Sejak itulah ia memperlebar usahanya ke trading peralatan dan pakaian petualangan sampai ke produk-produk safety, emergency dan militer.

Di saat usahanya mulai membaik, ia mulai mengenang kembali proses saat ia jatuh, melihat sebuah harapan baru dan mulai bangkit kembali. Ada empat hal yang bisa membuatnya perlahan-lahan naik kembali.

Yang pertama adalah integritas dan kejujuran. Dengan memiliki nilai integritas dan kejujuran dalam segala hal akan melanggengkan hubungan yang telah dijalin. Baik dengan konsumen, suplier atau dengan siapa saja.

Kedua, biasakan memberi dulu baru menerima. Contohnya waktu terjadi gempa. Dia sempat terheran-heran mengapa tiba-tiba dirinya membuat posko gempa dan aktif di dalamnya di saat kondisi bisnisnya remuk.

Tapi, disitulah hal unlogic terjadi. Tiba-tiba bisnis barunya mulai membaik, order mulai berdatangan dan masalah di usahanya satu per satu terselesaikan.

Ternyata upayanya mendirikan posko bantuan gempa berimbas positif kepada bisnisnya. Padahal hal itu tidak pernah terlintas sama sekali dalam benaknya. Jadi menurutnya, dalam dunia bisnis selalu ditekankan untuk “memberi dahulu, baru kemudian menerima”, apapun bentuknya.

Ketiga, passion. Pada waktu ia merasa mentok dengan masalah bisnis yang dihadapinya, ada seorang teman mengingatkannya untuk kembali menemukan “passion”-nya. Ia disarankan untuk tetap semangat, bergairah dan melihat kembali “sejarah kehidupan keluarga dan kehidupannya” di masa dahulu.

Lewat passion inilah kekuatan untuk terus maju dalam menghadapi segala tantangan timbul. Ternyata Ferri pernah berjualan sayur di masa kecilnya. Jadi ia mengenangnya kembali dan ternyata kenangan tersebut bisa memberikan lecutan baginya.

Terakhir, dalam dunia wirausaha selalu dipenuhi dengan hal-hal yang “unlogic”. Hal-hal yang sulit dijelaskan secara rasional. Sudah beberapa kali ia bertemu dengan orang-orang yang menjalankan usahanya dengan keyakinan terhadap doa yang dipanjatkan. “Syukuri, bertindak dan berdoalah”, Ferri mencoba mengulangi kalimat yang pernah didengarnya.

Hanya saja, hal itu meski terdengar mudah tetapi sangat sulit penerapannya. Masalahnya adalah hal itu ada kaitannya dengan keiklashan hati. Sebuah hal yang sangat sulit diukur dengan angka dan kata-kata. Sekarang, Ferri Iskandar sudah melakukan diversifikasi usaha di bidang kuliner dan peternakan.

Di dua jenis usaha yang terakhir tersebut, ia memutuskan untuk tidak terlibat dalam pengelolaanya. Ia lebih nyaman sebagai pendukung orang-orang yang mempunyai hasrat tinggi dalam menjalankan usaha tersebut.

Ia juga mempunyai hasrat yang kuat dalam dunia pertanian. Di situ, ia melihat ada ada sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan olehnya dan orang-orang mempunyai hasrat kuat untuk menjalankan usaha tersebut.

Anda tertarik untuk terjun dan menimba ilmu serta kiat-kiat pengusaha sukses bersamanya?

(sumber gambar : wongcilik.6te.net)

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

5 Comments

  1. Dina

    July 27, 2010 at 12:28

    Sangat menarik pengalaman yang dipaparkan dan prinsip yang diterapkan oleh pak Ferry. Saya jadi semakin termotivasi untuk terus belajar dan menjadi wirausaha.
    Thanks buat sharingnya.

  2. arifiin

    September 12, 2011 at 10:55

    sangat tertarik sekali bos…

  3. IMAM BUDI YUWONO

    September 8, 2012 at 06:46

    saya peternak bebek sangat tertarik untuk bisa berkolaborasi dengan mas ferry.kalo boleh saya mau belajar dengan mas ferry.

  4. ANTO'

    October 5, 2012 at 11:57

    Ass, saya sangat tertarik artikel diatas dan mjkan spirit baru kpd sy saat ini sy bisnis di bidang fashion (pakaian) klw boleh minta alamt mz fery agr bisa serring ttng bisnisnya tks.wass

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>