Ini Dia Contoh Strategi Penjualan dengan Teknik Funneling


By on November 2, 2013
study kasus strategi penjualan dengan teknik funneling

Anda tahu apa yang pertama kali Anda lakukan jika Anda membuka usaha bisnis baru? Strategi penjualan apa yang harus Anda lakukan? Banyak orang yang tidak tahu dan lupa bahwa yang harus mereka lakukan adalah memperbanyak calon konsumen terlebih dahulu.

Jika Anda langsung berjualan dengan harga yang mahal maka akan sangat sedikit mendatangkan calon konsumen bagi Anda. Tentu akan sulit sekali bagi Anda untuk mendatangkan konsumen jika Anda langsung menawarkan kepada mereka harga yang paling mahal.

Dan Anda tahu, ada teknik pemasaran bisnis yang inspirasional yakni dengan menggunakan jurus funneling. Apa dan bagaimana strategi penjualan dengan teknik funneling itu. Funneling disini berarti corong. Tujuan sebenarnya adalah untuk lebih dulu mengumpulkan sebanyak mungkin calon konsumen. Hasil awal dari jurus funneling ini, Anda akan dapat melihat dan menyaring siapa konsumen yang benar-benar berminat terhadap produk Anda.

Lebih jelasnya saya akan memberikan contoh bagaimana strategi penjualan ini bekerja. Contoh ini saya ambil dari kasus dimana pelatih sukses TDW mengadakan coach pada salah satu bengkel di kawasan Gading, Serpong. Bengkel tersebut hanya memiliki 1 karyawan yang pekerjaannya hanya ‘menepuk lalat’ karena bengkel baru itu sangat sepi pelanggan. Dan repotnya, di sebelah bengkel itu sudah ada 4 bengkel yang sudah lebih dahulu membuka bisnisnya.

Bengkel ini memang telah memasang spanduk dengan tulisan “Distributor Oli, Distributor Aki”. Namun Anda tahu keuntungan apa yang didapat dengan spanduk semacam ini? Ada pembeli yang datang, tetapi sedikit sekali. Dengan arahan dari pak Tung, kemudian spanduk tersebut diganti dengan menuliskan kata GRATIS!!, dalam ukuran yang besar dan mencolok.

Pada awalnya sang pemilik bingung apa yang mau digratiskan, namun kemudian mucul beberapa ide untuk mengratiskan : gratis ongkos ganti oli, gratis ongkos service radiator, gratis semir ban supaya mengkilap, gratis isi angin untuk ban, dan gratis ongkos cek rem yang terkesan mahal.

Spanduk dengan tulisan “Sebelum Anda berlibur atau mudik, cek rem mobil Anda lebih dahulu di tempat kami GRATIS!!! daripada terjadi Rem Blong ditengah jalan” membuat orang mau datang karena mereka merasa tidak perlu mengeluarkan biaya dan hal tersebut memang sebaiknya mereka lakukan.

Memang benar semua ongkos gratis seperti yang telah dijanjikan. Tetapi jika setelah dicek dengan seksama oleh teknisi ternyata remnya sudah usang, maka secara otomatis rem tersebut harus diganti sehingga mereka harus membeli onderdilnya terlebih dahulu sebelum memasang yang baru. Ini merupakan langkah awal memperbanyak lead (calon konsumen). Dan langkah selajutnya adalah memperbesar calon konsumen yang sudah datang menjadi konsumen Anda.

Pada tahap ini, buktikan jika konsumen Anda memang perlu membeli sesuatu yang mendesak dan penting, tapi dengan tidak berbohong tentunya. Misal pada saat pengecekan rem, teknisi bisa mengatakan dan memperlihatkan data yang terdapat pada buku manual jika hasil pengukuran dari rem tinggal 0,7 dan menurut buku petunjuk manual seharusnya 2,1.

Hal ini menyebabkan resiko rem blong dan sebaiknya harus diganti. Tentu saja orang itupun akan dengan senang hati mengganti rem kendaraannya daripada terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatannya. Sungguh sebuah teknik manajemen penjualan yang jitu bukan.

Dan jika mereka sudah menjadi konsumen kita, langkah selanjutnya adalah memperbesar pembelian per-konsumen. Anda bisa menjual harga yang lebih tinggi dari harga dipasaran, tentunya dengan adanya ‘nilai tambahan’. Bengkel ini menjual harga spare part 2x lebih tinggi dibanding bengkel resmi dengan nilai tambahan berupa service secara lengkap, dari pembongkaran, pembersihan, dan pelumasan dengan oli yang baru terhadap kendaraan konsumen sebelum memasang sparepart yang akan diganti.

Hal ini menjadikan keselamatan si pengendara dalam perjalanan lebih terjamin. Disini bukan lagi bersaing dalam harga lagi, melainkan saingan service sehingga bengkel tetap bisa menjual produk dengan harga yang lebih mahal dan konsumen tetap mau membelinya.

Dan Anda tahu, hanya dalam waktu 6 bulan karyawan bengkel tersebut meningkat menjadi 8 orang. Dalam waktu 2 tahun jumlah bengkelnya bertambah menjadi 3 buah, dan dalam waktu 3 tahun jumlah bengkelnya meningkat menjadi 5 buah bengkel. Dan karyawan yang semula hanya 1 orang yang kerjaannya cuma tepuk lalat sudah berkembang menjadi lebih dari 68 orang.

Bengkel-bengkel tersebut dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan keuntungan yang dasyat dan berhasil meraih angka penjualan tertinggi se-Indonesia untuk alat penghemat bensin dengan strategi penjualan yang sama. Sungguh fantastik bukan. Ini berawal dari sebuah teknik yang dahsyat yakni jurus funneling. Anda siap mencobanya untuk bisnis Anda?

(sumber gambar : kaskus.co.id)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About P3nO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *