Contoh Strategi Pemasaran Spektakuler : Impulse Buying

By on March 6, 2014
Contoh Strategi Pemasaran Spektakuler : Impulse Buying !!

Contoh Strategi Pemasaran – Anda pernah ngantar istri atau ibu belanja kan? Dan biasanya mereka punya daftar belanjaan juga kan? Tapi pas sampai supermarket atau pasar, tiba-tiba istri atau ibu Anda belanja barang yang tidak ada di daftar belanjaan, benar demikian? Seperti terhipnotis… belanja di luar rencana awal. Dan yang ibu atau istrinya tidak biasa belanja pakai daftar belanjaan, bisa lebih banyak lagi beli barang yang “aneh-aneh” dibeli.

“Iya ya dok… Kok bisa ya? Apa penyebabnya dok?”. Ooo… banyak kali sebabnya, Satu, bisa karena tergoda iklan yang menarik. Dua,  pengen coba-coba. Tiga, tertarik karena desain kemasannya yang unik. Empat, harganya murah, lima sampai enam, display barangnya menonjol hingga dipepet SPG sampai klepek-klepek nggak bisa nolak.

Anda tahu perilaku seperti apa ini? Perilaku ini biasanya disebut impulse buying. Dan kata om saya, mas Hermawan Kertajaya, dalam ilmu perilaku konsumen, secara umum produk itu terbagi menjadi 2 :

  1. High Involvement
    Adalah produk yang memerlukan perhatian khusus sebelum pembeli memutuskan untuk membeli produk tersebut. Contohnya kulkas, kamera, laptop, mobil dan semisalnya.
  2. Low Involvement
    Produk yang jarang atau tidak memerlukan “pengamatan” khusus. Contoh produk yang termasuk kategori ini adalah permen, cokelat, es krim dan produk-produk yang satu “geng” dengannya. Jadi kalau Anda beli permen, kan nggak mungkin Anda akan mengecek berapa kandungan gulanya atau menelpon ke dinas kesehatan untuk menanyakan apakah permen Anda tadi layak untuk Anda konsumsi. Benar kan? Makanya produk-produk seperti ini dinamakan low involvement.

Nah, produk low involvement inilah yang memacu impulse buying. Kemudian pertanyaannya adalah, kok bisa produk low involvement memacu impulse buying? Mau tahu jawabannya? Wokeh, ane jelaskan. Pertama-tama, Anda harus tahu siapa target pasar yang paling empuk saat Anda ingin menerapkan contoh strategi pemasaran menggunakan impulse buying tersebut. Siapa mereka? Mereka adalah wanita dan anak-anak. Alasannya adalah :


  1. Wanita
    Wanita lebih mempunyai kecenderungan psikologis untuk melihat-lihat dan membanding-bandingkan berbagai macam produk sebelum memutuskan membeli barang yang telah direncanakan. Dan tabiat mereka adalah tatkala membanding-bandingkan produk, seringkali pilihannya jatuh ke barang yang semula tidak mereka rencanakan.
  2. Anak-anak
    Mereka walau belum punya purchasing power yang independen alias kekuatan penuh untuk membeli sebuah barang, mereka seringkali menjadi influencer tinggi dalam memilih barang. Anda sering lihat kan anak-anak mogok di depan barang yang mereka sukai? Bahkan terkadang nggak cuma mogok, tapi teriak-teriak hingga menangis dengan kencangnya. Dan adegan selanjutnya bisa ditebak, orang tua-nya tidak punya pilihan lain untuk membelikannya.

Itu alasannya mengapa produk kategori low involvement bisa memberikan impulse buying yang dahsyat. Dan ada 2 tips penting jika Anda hendak mempraktekkan contoh strategi pemasaran dengan menggunakan produk low involvement untuk meningkatkan impulse buying di toko kelontong Anda misalnya.

Pertama, impulse buying haruslah produk yang inovatif, karena kecenderungan pembeli jenis ini kategorinya orang yang suka membanding-bandingkan produk dan mencoba hal-hal yang sifatnya baru. Kalau produk Anda hanyalah produk rata-rata, potensi impulse buying-nya kecil.

Kedua, posisi yang paling strategis untuk menaruh produk impulse buying adalah yang menarik perhatian orang, baik display produknya atau shelf space-nya. Anda tahu kan shelf space? Nggak tahu? Payah lah !! Tapi sama ding, saya juga nggak tahu kok, wkwkwkwkwk…

Saya lanjutkan, dan posisi yang paling strategis adalah dipajang di konter check out dekat kasir. Apalagi kalau Anda menerapkan strategi marketing “buat antrian panjang” “Dasar teorinya apa dok?” Dasar teorinya adalah tempat tersebut merupakan tempat pembeli sedang bertransaksi. Selagi mereka bertansaksi, tatapan mata mereka akan tertuju pada produk yang di display dengan harga seputar recehan.

Hal inilah yang men-stimulus impulse buying. Jadi jangan Anda pasang mesin cup sealer dengan harga ratusan ribu di dekat kasih yah… walaupun untungnya lebih gede dari permen coklat, nggak akan membuat impulse buying,  ha..ha..ha..


Begitu saja dari saya. Ada pertanyaan nggak? Kalau nggak, share dong di social media. Itung-itung bantuin saya buat mempopulerkan dokter bisnis. Kan ntar saya semangat nulisnya. Nggak cuman contoh strategi pemasaran doang, hag..hag..hag..

(sumber gambar : magunity.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

3 Comments

  1. bagja

    April 10, 2015 at 10:38

    artikel oa dok kuar biasa. sangat inspiratif. dan sangat membantu bagi pemula yg mw usaha seperti saya

  2. gingin bhakti

    November 16, 2015 at 14:48

    mantap artikelnya. terimakasih

  3. jhony

    January 29, 2016 at 19:18

    Cakep artikelnya nih.. Kebetulan toko saya belum bagus tata letaknya masih simpang siur..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *