Ingin Punya Usaha Spekulatif yang Sukses? Baca Dulu Tipsnya (#2)

By on May 17, 2014
Ingin Punya Usaha Spekulatif yang Sukses? Baca Dulu Tipsnya (#2)

Sekarang ane sudah sehat… Sudah nggak ngantuk. So, mari kita lanjutkan pembahasan tentang tips usaha spekulatif bagian 2. Kemarin sudah saya jelaskan dengan detail apa itu jam mesin dan apa itu jam tenaga.

Keduanya sebenarnya Anda butuhkan untuk mengetahui berapa HPP atau harga pokok produksi produk Anda. Cuman yang ingin saya tekankan pada artikel kali ini adalah bukan tentang HPP-nya. Tetapi tentang cerdas mengelola keuangan.

Di bagian yang mana? Di bagian penyusutan barang. Apa itu penyusutan barang? Jadi begini… dari contoh kasus yang saya sebutkan di artikel yang terdahulu, produksi bakso sapi Anda butuh mesin vacuum sealer. Dan sudah dijelaskan bahwa mesin vacuum sealer tersebut hanya bisa bertahan selama 2 tahun. Setelah itu Anda harus ganti lagi.

Jika Anda tidak cerdas dalam mengelola keuangan, Anda akan kerepotan saat mesin vacuum sealer Anda harus diganti. Dan biasanya, pemilik usaha spekulatif, usaha rumah tangga dan usaha kecil menengah kurang perhatian dalam hal ini.

Akhirnya mereka kelabakan karena tidak ada anggaran untuk membeli mesin yang harganya mahal. Ujung-ujungnya bisa ditebak. Biaya lainnya dikurangi guna menutup biaya pembelian aset ini. Bisa biaya marketing, bisa juga biaya produksi. Efeknya, daya jual mereka menurun karena modalnya berkurang.

Lalu bagaimana caranya agar mesin vacuum sealer tersebut bisa terbeli tanpa mengurangi biaya-biaya yang lain? Seperti yang telah saya sebutkan di atas, caranya adalah memasukkan jam mesin tersebut ke dalam HPP produk Anda. Detailnya seperti ini…

Dari contoh yang kemarin saya tulis, diketahui bahwa hasil nilai jam mesin Anda adalah 450 rupiah. Kemudian nilai jam tenaga Anda adalah 4 ribu rupiah. Nah, Anda tinggal butuh satu hal lagi untuk mengetahui HPP Anda, yaitu berapa kemampuan karyawan Anda dalam meng-vacuum sealer-kan bakso sapi tersebut dalam 1 jam.

Karena pada contoh yang kemarin saya tulis karyawan tersebut hanya mampu mengerjakan proses peng-vaccumm-an 10 bakso sapi dalam waktu 1 jam, maka Anda harus membagi jam tenaga sebesar 4 ribu rupiah dengan kemampuan karyawan Anda dalam melakukan proses peng-vacuum-an bakso sapi tersebut, yaitu 10 kali dalam 1 jam.


Berarti hitungannya adalah Rp. 4.000,- : 10x = Rp. 400,-. Misalkan bakso sapi Anda dijual dengan harga 15 ribu per pack, Anda harus masukkan jam mesin sebesar Rp. 450,- plus hasil dari jam tenaga dibagi jumlah kerja dalam 1 jam, Rp. 400,-. Sehingga harga bakso sapi Anda adalah Rp. 15.850,-. Paham kan?

So, saat 2 tahun kemudian Anda merasa bahwa mesin vacuum sealer Anda sudah tidak berfungsi dengan baik, Anda sudah punya cadangan dana sebesar Rp. 450,- di setiap bakso sapi yang Anda jual. Tinggal Anda tambahkan biaya inflasi plus hasil jual vacuum sealer yang lama (nilai residu), Anda sudah dapat mesin vacuum sealer yang baru tanpa harus mengurangi biaya-biaya lainnya.

Itulah yang saya maksud dengan cerdas mengelola keuangan. Ini penting sekali. Sebagus apapun penjualan Anda jiak tidak diimbangi dengan cerdas dalam mengelola keuangan… sama saja bo’ong.

Jadi jika Anda masih bingung dengan penjelasan saya di atas, coba Anda baca ulang pelan-pelan, pahami lalu ambil secarik kertas dan ballpoint. Coba Anda hitung berapa jam mesin, jam tenaga dan hitungan rupiah yang harus Anda masukkan ke dalam HPP produk Anda. Langsung praktek. 

“Okay dok, sekarang pertanyaannya adalah mengapa dokter memasukkan jam tenaga padahal tidak ada hubungannya dengan pembelian mesin vacuum? Yang kedua, bagaimana cara menghitung biaya inflasi?”

Jawaban untuk yang pertanyaan yang pertama adalah biar Anda tahu saja beberapa komponen penting dalam menentukan HPP. Salah satunya ya jam tenaga itu. Walaupun tidak berhubungan langsung dengan pembelian aset, paling tidak Anda tahu bahwa ada satu hal penting selain jam mesin, yaitu jam kerja sehingga Anda bisa cerdas dalam mengelola keuangan.

Untuk pertanyaan yang kedua, saya jawab di artikel lainnya ya… sudah siang. Saya mau mandi dulu. Gerah banget belum mandi dari tadi pagi. Nulis tips tentang usaha spekulatif ini butuh mikir agak lama. Jadinya ane kagak mandi-mandi. Ayem sori… maaf, ha..ha..ha..


Kesimpulannya adalah walaupun Anda baru merintis usaha spekulatif, jika Anda ingin usaha tersebut langgeng sekaligus menjadi pengusaha yang sukses, Anda harus cerdas dalam mengelola arus kas Anda. Ingat… dalam bisnis penjualan adalah ujung tombak Anda. Tetapi arus kas adalah rajanya. Selamat siang…

(sumber gambar : sastrapencerahan.wordpress.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *