Membahas Tuntas Bisnis Keripik Buah (Seri 2)

By on January 2, 2015
Membahas Tuntas Bisnis Keripik Buah (Seri 2)

Mas bro dan mbak sis, artikel “Membahas Tuntas Bisnis Keripik Buah Seri 2” ini lebih saya tekankan pada “pengalaman bisnis” dari beberapa pelaku usaha keripik buah. Sengaja saya bagikan “pengalaman bisnis” beliau karena ada pepatah yang mengatakan bahwa “pengalaman orang lain adalah salah satu guru bisnis yang paling berharga”, iya kan?

Okay, saya awali dengan pengalaman mas Ikhsan Setianto. Pada awal merintis bisnis keripik buah, mas Ikhsan hanya bisa memproduksi keripik buah dalam kapasitas yang kecil. Variasinya pun terbilang tidak banyak, hanya keripik salak, keripik nangka, keripik nanas dan keripik apel.

Sebenarnya, produksi beliau yang rendah tidak sesuai dengan kapasitas mesin keripik buah yang mampu memproduksi lebih banyak. Tetapi karena mas Ikhsan baru di bisnis keripik buah dan masih menjajaki pasarnya, beliau memutuskan untuk memproduksi sedikit terlebih dahulu.

Berapa kapasitas produksi keripik buah mas Ikhsan? Hanya 30 – 40 kg per bulan. Padahal kapasitas mesin vacuum frying (mesin utama keripik buah) dalam satu hari bisa menghasilkan 30 kg !! Jauh kan? Memang benar, produksi beliau sangat tidak sebanding dengan kapasitas mesin produksinya.

Namun CV. Nur Setia Abadi, perusahaan keripik buah yang dikelola mas Ikhsan Setianto ini punya konsep ke depan yang luar biasa. Beliau sudah merencanakan pengembangan produk, membuat program promosi lewat iklan serta melebarkan jalur distribusi hingga ke supermarket besar.

Selain itu, beliau juga berencana untuk mendekatkan pengolahan produksi dengan sentra bahan baku agar efisiensi produksi benar-benar optimal. Selain bisa menekan biaya distribusi, beliau berharap kualitas buah yang didapat jauh lebih baik. Maka jangan heran jika Anda menemukan pelaku bisnis keripik buah menempatkan lokasi usahanya di beberapa sentra produksi buah seperti Malang, Yogyakarta atau Wonosobo.

Lain halnya dengan om Steve Hikmat. Produsen keripik yang hanya fokus pada pengolahan keripik salak ini sudah bisa meraih keuntungan yang cukup lumayan. Beliau hanya menyasar pada konsumen pengunjung lokasi pariwisata yang banyak terdapat di Yogyakarta. Ia juga menerapkan harga jual yang berbeda pada sistem pembayaran secara konsinyasi atau tunai pada langganannya.

Yang jelas, beberapa konsumennya tersebar di beberapa daerah seperti Batam, Bandung maupun Riau. Menurut pengakuannya, om Steve mampu meraup keuntungan hingga 30% atau sebesar Rp 7,2 juta rupiah setiap bulannya. Begitu juga pada Soebagyo, salah satu produsen keripik nangka. Meski untungnya belum terlalu besar (hanya berkisar 2 juta rupiah sebulan), ia mengakui bahwa kedepannya prospek bisnis keripik buah ini akan bagus.


Mengapa pak Soebagyo yakin dengan prospek bisnis keripik buah ini? Karena meskipun banyak faktor penghalang yang mempengaruhi perkembangan bisnis keripik buah, sebagai produk konsumsi yang terbilang masih baru di Indonesia, potensi bisnis keripik buah ini ini masih berpeluang besar untuk bisa digarap baik karena didukung oleh kualitas bahan keripik yang semuanya serba alami.

Dan sudah menjadi rahasia umum kalau “yang serba alami” sangat menarik pasar luar negeri. Contohnya adalah mas Ikhsan Setianto, salah satu pelaku bisnis keripik buah yang sudah kita bahas di depan. Beliau mengakui bahwa sudah banyak buyer dari luar negeri seperti Hongkong, Taiwan, Bangladesh dan India.

Mereka menginginkan keripik salak, keripik nangka, keripik nanas dan keripik apel. Namun seperti kebanyakan UKM di Indonesia, produk keripik buah milik Ikhsan belum mampu memenuhi kualifikasi permintaan buyer luar negeri sehingga ia belum mampu menggarap pasar ekspor.

Bagaimana sekarang? Sudah cukup kan “pengalaman usaha” para pelaku bisnis keripik buah di atas? Kalau sudah, sebagai penutup, saya akan kutipkan beberapa persyaratan buyer luar negeri banyak yang tidak bisa dipenuhi oleh UKM pelaku bisnis keripik buah di Indonesia.

Apa saja? Diantaranya adalah legalitas, dokumentasi kesehatan dari depkes dan sertifikat untuk produk. Buyer luar negeri sangat memperhatikan hal-hal tersebut karena mereka menginginkan keripik buah yang mereka beli benar-benar higienis.

Selain persyaratan perijinan di atas, kendala lainnya terletak pada pengemasan. Buyer international meminta pengemasan yang sudah rapi, berbahan alumunium foil lengkap dengan brand dan desainnya. Mereka juga meminta berat per satu kemasannya adalah 50 gram. Jika persyaratan pasar ekspor tersebut bisa Anda penuhi, bukan hal yang mustahil permintaan dalam jumlah besar bisa Anda dapatkan.

Tetapi yang harus Anda ketahui, minimal order dalam jumlah besar yang harus Anda penuhi adalah 1 kontainer !! Anda membutuhkan modal 200 – 300 juta rupiah untuk bisa memenuhi permintaan tersebut, termasuk mesin kripik buah -nya.

Tentu saja bagi pelaku bisnis keripik buah skalaUKM, menanggung modal sebesar itu cukup berat. Maka dari itu Anda harus pintar menyiasatinya, misalkan dengan menggandeng beberapa pelaku bisnis keripik buah untuk memenuhi permintaan tersebut.

Anda sanggup? Kalau ya… silahkan !! Peluang besar menjadi “grosir keripik buah internasional” menanti Anda.


(insya Allah bersambung ke Membahas Tuntas Bisnis Keripik Buah Seri 3)

(sumber gambar artikel bisnis keripik sayur dan buah : www.rumahno48.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *