Saatnya Membedah Ide Bisnis Baru… Usaha Batu Akik (Part 2)

By on February 13, 2015
Saatnya Membedah Ide Bisnis Baru... Usaha Batu Akik (Part 2)

Mari kita lanjutken pembahasan tentang “Membedah Ide Bisnis Baru… Usaha Batu Akik Seri 2″. Kemaren sampai mana ya? Oh iya… sampai “apakah kita masih bisa “terjun” di usaha batu akik dan jika tidak, bagaimana cara mengatasi peluang bisnis terbaru tersebut”. 

Well… sebenarnya pertanyaan tentang bisnis terbaru 2015 di atas kurang tepat. Terlalu “oportunis” jika pertanyaannya demikian. Mengapa saya sebutkan kurang tepat? Karena seharusnya Anda tidak terjebak dalam “kegilaan” tersebut.

Pelan tapi pasti, eforia masal tersebut biasanya akan menjadi “bubble” yang kemudian dor… pecah !! Dan jika gelombang kegilaan kolektif tersebut mendadak meletus, seketika juga semua harga yang ada di dalamnya tumbang berjatuhan.

Ironisnya, irrational exuberance akan berubah menjadi tangisan masal yang sudah terlambat. Anda ingat kan contoh yang saya berikan di pembahasan “Ide bisnis Baru… Usaha Batu Akik Seri 1″ kemarin?

Ya… dia adalah si “penukar” mobil pick up dengan 2 tanaman jemani “menangis tersedu-sedu”. Pohon jemani nya sudah tidak lagi bernilai puluhan juta rupiah. Sekarang… dibeli dengan harga 100 ribu pun orang masih mikir.

Fenomena financial mania ini adalah contoh nyata dari premis dasar ilmu financial psychology bahwa manusia itu sering bersikap tidak rasional. Masih kata om Yodhia, premis ilmu psikologi keuangan itu membantah teori ekonomi klasik yang sangat percaya dengan rasionalitas manusia.

Seperti apa teori ekonomi klasik tersebut? Ekonom-ekonom klasik selalu percaya asumsi bahwa manusia itu selalu bersikap rasional dalam financial dan economic decision making. Namun para ahli psikologi keuangan (financial behavior) mengatakan bahwa kepercayaan bahwa manusia itu rasional dalam financial/economic decision making adalah ilusi.

Eniwei, ilmu financial psychology atau yang sering disebut dengan behavioral economics baru muncul di era tahun 80-an. Pioner ilmu financial psychology adalah Daniel Kahneman, psikolog pertama dan satu-satunya yang pernah memenangkan hadiah nobel ekonomi pada tahun 2002.

“Wow !! Hebat kali om dokter ini… sampai tahu mister Daniel Kahneman segala”. Eittsss…siapa yang hebat. Saya juga baru tahu dari om Yodhia, wkwkwkwkwkwkwkwk… Balik lagi ke masalah peluang bisnis baru, usaha batu akik… apa pelajaran dari para “pengejar” keuntungan di usaha batu akik ini?

Kata om Yodhia… hati-hati dengan bahaya laten irasionalitas yang mengendap dalam jiwa kita. Sebegitu konsistennya manusia melakukan hal-hal yang irasional, Daniel Ariely sampai menulis buku berjudul Predictably Irrational, sebuah buku yang sangat dahsyat tentang ilmu psikologi keuangan.

Dan sudah seyogyanyalah fenomena gelombang cinta, ikan louhan, kebun emas hingga lobster air tawar “memberitahukan” kepada kita agar kita tidak kembali “terjebak” di ide bisnis baru usaha batu akik.

Meskipun hingga kini tetap saja kita lihat begitu mudahnya manusia tergelincir dalam herding behavior… perilaku kerumunan yang suka latah.

Masih kata om Yodhia… Emosi dan eforia masal membuat kita semua mudah terjebak dalam “irrational exuberance”. Ramai-ramai menjadi goblok… “Kegoblokan Kolektif”.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita? Apakah tidak boleh kita tetap terjun di “bisnis dadakan tersebut”? Atau apakah sebaiknya kita hindari saja ide bisnis baru yang semisal usaha batu akik ini?


Jujur… pertanyaan ini cukup berat. Dibutuhkan “integritas” dan “kejujuran” yang tinggi untuk menjawabnya. Dan jika saya boleh memilih… saya lebih suka tidak menjawabnya. Biarlah jawaban tersebut ada di hati saya yang terdalam. Saya takut jawaban saya “melukai” banyak orang, he..he..he..

Tapi kalau tidak saya jawab, anti klimaks dong… bad ending jadinya kan? So, kesimpulan adalah saat Anda dihadapkan pada fenomena investasi dimana orang yang ramai berbondong-bondong memburu sesuatu, Anda mesti waspada bahwa mungkin ada “benih-benih” irasionalitas di sana.

Apalagi jika “produk” tersebut tiba-tiba “muncul” dan menjadi “terkenal” dari yang sebelumnya “tidak diketahui” alias antah berantah.

Sebab perilaku yang dilakukan orang kebanyakan bukan berarti yang paling benar. Bisa jadi mereka sedang beramai-ramai menuju “kegoblokan massal”.

Lalu bagaimana jika Anda sudah terlanjur terjun di sana? Atau bagaimana jika saya “tidak dapat menahan” keinginan saya untuk terjun di bisnis tersebut? Kalau memang Anda sudah terlanjur di bisnis tersebut misalkan di usaha batu akik, ingat baik-baik pepatah Robert Kiyosaki berikut ini :

Di saat Anda menjumpai seorang sopir taksi mulai bermain saham, di saat itulah Anda harus keluar dari permainan itu

Jadi, jika Anda sudah terlanjur “bermain” di usaha batu akik dan menemukan petani ikan atau tukang becak (*maaf, tidak bermaksud merendahkan profesi tukang becak) yang tidak tahu menahu tentang batu mulia tiba-tiba ikut bermain batu akik, di saat itulah Anda harus berhenti dari usaha batu akik tersebut.

Paham? Karena pada saat itulah bisa dipastikan “balon” tersebut sudah menggelembung dengan maksimal. Dan sebentar lagi, “balon” tersebut akan meletus. Anda tahu kan apa jadinya jika “balon” tersebut meletus?

DOR !! Harga batu akik akan jatuh dan “si pemain belakangan” akan “menangis tersedu-sedu” karena batu akik yang ia beli dengan harga puluhan juta tiba-tiba tidak bernilai… seperti yang terjadi pada si pemilik mobil pick-up yang sudah menukarkan mobil pick-up miliknya dengan 2 buah tanaman jemani.

Itu jika Anda sudah terlanjur “bermain” di dalamnya. Tetapi jika Anda belum bermain, jangan coba-coba untuk masuk di dalamnya… meskipun Anda adalah “rombongan” pemain yang pertama. Mengapa? Sekali lagi, ini masalah kejujuran dan integritas ya…

Begini… bagaimana perasaan Anda jika Anda di adalah “si pemilik mobil pick-up tersebut”… si “pemain belakangan”? Pasti hatinya akan “tersayat-sayat” menangis pilu kan? Anda tega “mengambil keuntungan” dari kondisi seperti ini? Siapa yang tahu kapan balon itu akan meletus… benar tidak?

So, saran saya hindari bisnis-bisnis semacam itu. Masih banyak peluang usaha baru modal kecil dan besar lainnya yang bisa memberikan banyak keuntungan dan bertahan dalam waktu yang lama.

Tapi ngomong-ngomong, jujur, saya lupa “nasehat sopir taksi” tadi adalah nasihat investasi siapa ya? nasihat investasi Warren Buffet, Donald Trump apa Robert T Kiyosaki ya? Hadduuuhhhh… Maaf nih man teman, saya kayaknya benar-benar lupa.


Tapi sepertinya benar kok, itu “petuah” dari Robert Kiyosaki. Well, kalau saya salah, tolong tuliskan di kotak komentar ya… sekalian judul bukunya. Supaya teman-teman kita yang sudah terlanjur menjalankan ide bisnis baru usaha batu akik bisa membaca nasihat-nasihat beliau, okay?

(sumber gambar artikel ide bisnis baru usaha batu akik : actionindonesia.com)

Artikel Sebelumnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *