Prinsip Marketing Ini Bisa Meledakkan Omset Penjualan Anda

By on August 9, 2015
Prinsip Marketing Ini Bisa Meledakkan Omset Penjualan Anda

Marketing… ada yang bilang gampang, tapi lebih banyak yang bilang susah. Iya apa iya? Anda termasuk yang mana? Yang bilang gampang, atau yang bilang susah? Kalau yang bilang susah, berarti Anda harus baca prinsip marketing yang satu ini.

“Terus kalau yang bilang gampang gimana dok? Nggak boleh baca ya?”. Ya harus tetep baca lah. Supaya “waktu baca rata-rata” web Dokter Bisnis jadi makin banyak. Kan bisa mempengaruhi rating web ane. Biar gugel makin demen, wkwkwkwkwk…

Balik lagi ke pembahasan prinsip marketing, topik yang satu ini memang topik yang paling serem di kalangan topik-topik bisnis lainnya. Dulu saya juga berpikiran seperti itu. Tetapi sekarang, jangan tanya… saya tetep aja berpikiran bahwa prinsip marketing adalah topik serem seserem-seremnya, hua..ha..ha..

Tapi meskipun topik prinsip marketing adalah topik yang serem, mau nggak mau Anda harus mempelajarinya kan? Kalau nggak Anda pelajari, terus gimana Anda mau jualan? Masak Anda terus-terusan fokus di produksi? Kapan lakunya kalau gitu?

Nah, supaya jualan Anda laku, prinsip marketing dasar yang harus Anda ketahui adalah Anda harus tahu siapa unit pembuat keputusannya. Mau prinsip marketing mix, prinsip marketing Kotler, prinsip marketing komunikasi, prinsip marketing in venus bahkan prinsip marketing 4P, kalau Anda nggak tahu siapa pengambil keputusannya, Anda akan kesusahan menjual produk atau jasa Anda.

“Lho dok, bukannya unit pengambil keputusan itu adalah customer? Kan yang namanya calon pembeli adalah customer. Betul kan dok?”. Ya, betul sekali jawaban Anda. Cuman yang harus Anda garis bawahi adalah, definisi customer mana yang Anda jadikan patokan?

Sejauh yang saya tahu, definisi customer yang tepat adalah siapapun mereka yang terlibat di dalam keputusan pembelian. Bukan cuman yang nanyain produk Anda saja. Dan di dalam sebagian besar kasus, beberapa orang bisa saja terlibat di dalam pengambilan keputusan.

Di sinilah seninya (atau lebih tepatnya saya katakan rumitnya, wkwkwkwkwk…), Anda dipaksa harus berpikir masak-masak bagaimana sebuah keputusan pembelian dibuat. Tujuannya agar Anda bisa mengidentifikasi siapa saja yang terlibat.

Bingung ya? Gini aja, biar Anda lebih “dong markodong”, saya bahas dulu siapa saja unit pembuat atau pengambil keputusan menurut Don Sexton, jagonya meledakkan penjualan alias pakar marketing. Misalkan Anda adalah seorang mahasiswa, punya adik 2 orang yang baru duduk di bangku SMA dan SD. Anda tinggal bersama kedua orang tua Anda.

  1. Penjaga Pintu (Pengendali Akses)
    Anda : “Ayah, lihat iklan mobil yang aku temukan di iklan koran hari ini. Keren abis !!” Di sini, Anda berfungsi sebagai “Penjaga Pintu”, yaitu mengendalikan akses ke anggota unit pembuat keputusan.

[sociallocker]


  1. Pemrakarsa
    Adik Anda yang masih duduk di bangku SMA : “Wah… betul mas. Kita benar-benar membutuhkan mobil. Biar mudah kalau mau pergi ke rumah kakek. Masak harus naik motor 3 baru bisa berangkat semua?” Di sini, adik Anda adalah “Pemrakarsa”, seorang yang memulai proses keputusan pembelian.
  2. Pemberi Pengaruh
    Ibu Anda : “Iya pah. Mama benar-benar ingin beli mobil minivan supaya semua anak kita bisa mendapatkan tempat duduk. Lagian bener tuh, biar nggak repot kalau ke rumah eyang kakung.” Ibu Anda adalah seorang “Pemberi Pengaruh”, memiliki kepentingan pada hasil keputusan pembelian dan akan turut memberi kontribusi opini. 
  3. Pemberi Keputusan
    Ayah Anda : “Ya sudah. Berapa sih? Nanti ayah lihat dulu berapa uang ayah di bank. Pokoknya untuk pilihan, ayah ikut kalian saja.” Di sini, ayah Anda adalah seorang “Pemberi Keputusan”. Ia membuat keputusan akhir untuk menyetujui atau menandatangani. Tetapi yang harus Anda ketahui, si “Pemberi Keputusan” bisa jadi bukan merupakan anggota terpenting di dalam unit pembuat keputusan. 
  4. Pemberi Veto
    Anda : “Tapi saya nggak mau mengemudikan kecuali mobil itu punya air bag samping lho pah… Nggak safety ntar. Cari mobil yang safety nya kuat. Apalagi jaman sekarang, banyak orang yang sembarangan naik kendaraan.” Nah, kalau Anda… Anda di sini adalah seorang “Pemberi Veto”. “Pemberi Veto” adalah unit pembuat keputusan yang posisinya bertugas untuk menghentikan pembelian. 
  5. Pengguna
    Adik Anda : “Horeee… aku mau punya mobil. Akhirnya semua bisa pergi ke rumah kakek bersama-sama. Nggak perlu kehujanan, nggak perlu kepanasan, kalau ngantuk tinggal tidur.” Kalau yang ini, Adik Anda, adalah sebagai “Pengguna”… menggunakan produk atau jasa itu.

Well, dengan penjelasan prinsip marketing di atas, seperti yang sudah saya terangkan di awal pembahasan topik prinsip marketing ini, Anda dituntut untuk mahir mencari tahu siapa saja yang nantinya yang terlibat dalam keputusan pembelian produk atau jasa Anda.

Tetapi yang harus Anda pahami, Anda tidak akan bisa dan tidak perlu untuk menghubungi semua orang yang terlibat di dalam keputusan pembelian itu. Anda hanya memutuskan kepada siapa Anda harus mengalokasikan waktu penjualan Anda guna memaksimalkan peluang untuk meraih penjualan.

Dan bisa jadi, sebagian anggota unit pembuat keputusan mungkin memiliki lebih dari satu peranan. Pada contoh di atas, Anda berfungsi sebagai “Penjaga Pintu” dan “Pemberi Veto”. 

Kesimpulannya, jika Anda ingin meledakkan omset penjualan, carilah tim penjualan yang orang-orang di dalamnya mahir mencari tahu siapa yang akan terlibat dalam keputusan pembelian. Ingat… pada contoh di atas, ayah Anda, si “Pemberi Keputusan” bukanlah “aktor utama” dalam unit pembuat keputusan.

Jadi jika Anda atau tim penjualanAnda  mengalokasikan waktu penjualan kepada unit pembuat keputusan yang salah, kemungkinan besar penjualan Anda akan “ZONK” istilah anak muda sekarang… nol besar !! Mau contoh?

Nih contohnya… seekor kucing merupakan pada prinsip marketing di atas termasuk ke dalam kategori “Pengguna”. Walaupun kucing tidak bisa berbicara, (*kalau bisa Anda pasti lari) ia bisa jadi sebagai “Pemberi Veto” dengan cara menolak untuk memakan makanan kucing dari merek tertentu.

Jadi walaupun Anda sudah berbuih-buih meyakinkan si pemilik kucing bahwa makanan kucing Anda adalah makanan kucing yang terbaik, semua menjadi “musnah” jika si kucing tidak mau menyantap produk makanan kucing Anda.

Dan meskipun Anda dituntut untuk meningkatkan penjualan produk makanan kucing tersebut, Anda tidak akan berusaha meyakinkan kucing tersebut bahwa makanan kucing Anda baik untuknya kan? Masak Anda mau bilang ke kucing tersebut begini, “Pus… pus… sini. Om bawain makanan yang sangat bergizi. Rugi lho kalau sampai nggak kamu makan?”… Bisa gila Anda !!


(sumber gambar artikel prinsip marketing : www.payanywhere.com)

[/sociallocker]

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *