7 Cara Merintis Usaha Kecil & Cara Keluar dari Hutang (Bag. 5)


By on September 9, 2015
7 Cara Merintis Usaha Kecil & Cara Keluar dari Hutang (Bag. 5)

Menginjak artikel “7 Cara Merintis Usaha Kecil & Cara Keluar dari Hutang Bagian Terakhir, Anda akan saya ajak untuk menyelesaikan pelajaran yang satu ini. Sudah siap?

“Siap dok. Tapi beneran lho, awas kalau nggak !! Udah 5 seri ini. Pegel bacanya…”. Wokeh, saya selesaikan hari ini juga. Sampai dimana pembahasan cara merintis usaha dari nol kita kemaren?

Oh iya… kelihatannya sampai pada pelajaran “kepada siapa Anda harus belajar”. Sipppp !! Well, untuk poin yang satu ini, ijinkan saya untuk mengutip status teman Facebook saya, om Waskuri Mulia…

Dengarkan orang yang ahli, jangan dengarkan orang yang “jualan”
Investasikan waktu Anda sebelum menginvestasikan uang Anda

Yes… mantab kan? Apa maksud dari status beliau? Pertama, Anda harus mendengarkan saran dari sang ahli. Jangan Anda dengarkan orang yang “jualan”. Contohnya bisnis batu akik. Jika Anda tanya kepada orang yang ngerti masalah bisnis, maka Anda tidak akan disarankan untuk terjun di dalamnya.

Mengapa? Karena bisnis model seperti itu termasuk kategori “monkey business”… Kecuali emang orang yang sedari awal bisnis jualan batu akik. Tapi jika Anda tanya kepada orang yang jualan batu akik, jawabannya pasti berbeda. Anda jelas-jelas disarankan untuk ikut jualan batu akik. Lha gimana tidak? Wong dia “bakul” nya, wkwkwkwkwk… Paham kan?

Untuk pepatah yang kedua, investasikan waktu Anda sebelum menginvestasikan uang Anda, kira-kira apa maksudnya? Sederhana… Anda hanya diajak untuk “mencari tahu dengan detail” informasi terkait sesuatu yang akan Anda beli. Jadi berhati-hatilah saat Anda memutuskan untuk membeli sesuatu.

Contoh nih… ada orang jualan tutorial untuk menjadi teknisi handphone. Anda cek seperti apa bisnis handphone sekarang. Jangan-jangan karena bisnis handphone sudah “krouded” alias penuh, ia jualan tutorialnya karena ia tahu bahwa bisnis teknisi handphone nya sudah mulai jenuh.

Atau Anda diiming-imingi tentang pelatihan properti modal dengkul yang hasilnya maknyuss misalnya. Anda cek seperti apa bisnis properti si mentor tersebut. Cek darimana ia mendapatkan penghasilan utamanya. Dari bisnis propertinya, atau dari jualan pelatihannya. Mengapa harus Anda cek terlebih dahulu?

Karena “jalan bisnis” Anda akan bergantung kemana Anda “menggantungkan” ilmu Anda. Paham kan? Anda harus cari “guru” yang benar-benar berhasil di dalam bisnisnya. Bukan yang baru tahu 1 – 2 jurus terus buka pelatihan. Habislah sudah, wkwkwkwkwk…

Cari yang benar-benar sudah membuktikkan di bisnisnya. Karena jika Anda belajar ke orang yang salah, maka jalan bisnis yang harus Anda jalani juga akan salah. “Okay dok. Terus siapa orangnya?”… Gud kuesien !! Sayangnya, untuk kali ini, saya tidak akan menjawab pertanyaan ini. Takut dikira pesan sponsor, ha..ha..ha..

Tapi yang jelas, Anda tidak harus berguru langsung kepada orangnya. Silahkan Anda belajar melalui buku, video tutorial, seminar dan pelatihan bisnis, komunitas, grup online dan sebagainya. Contohnya ya Anda belajar di blog DokterBisnis [.] net ini. Jelas mentor terpercaya… kan keliatan dari tulisan-tulisannya, benar kan? (*narsis nih gua, wkwkwkwkkwkwk)…

Cara Merintis Usaha & Cara Bebas Hutang #6 : “Matikan” Liabilitas Anda Terlebih Dahulu

Ini cara merintis usaha baru yang paling berat… Anda tahu liabilitas kan? Nggak tahu? Baca artikel ini dulu ya. Sudah? Wokeh, saya lanjutkan. Penghancur nomer 1 bagi orang yang baru (atau juga yang sudah lama ya, ha..ha..ha..) membangun bisnis adalah TIDAK BISA MENGONTROL LIABILITAS. Apa maksudnya? Maksudnya adalah Anda tidak bisa “NGIRIT”…

Ini sudah jadi rahasia umum. Hal ini bisa terjadi karena di dalam otak manusia, perbandingan logika dengan emosional adalah 1 berbanding 24. Sangat susah bagi seseorang yang punya uang untuk bisa menahan dorongan emosionalnya agar tidak membeli barang-barang yang ia sukai. Seperti yang telah saya jelaskan pada artikel rahasia menjadi kaya, semakin dewasa seseorang semakin mahal mainannya.

Bahkan di saat kondisi keuangan Anda sedang kritis pun, Anda akan mengalami godaan yang cukup berat untuk bisa menahan diri tidak membeli hal-hal yang menyenangkan Anda. Saya pun demikian. Pada saat awal saya merintis bisnis, saya paling tidak kuat untuk tidak makan enak. Jadi meskipun pendapatan saya pas-pasan waktu itu, tetap aja saya beli nasi goreng kesukaan saya, ha..ha..ha..

“Lha terus gimana dok? Saya kan butuh gadget buat bisnis. Saya juga butuh motor buat kesana-kesini.” Benar… Anda 100% benar. Tapi yang harus Anda pahami adalah, bedakan antara BUTUH dengan INGIN. Contohnya saat Anda membutuhkan alat komunikasi, Anda jelas butuh kan? Tapi kalau Anda butuh, cukup membeli alat komunikasi yang harganya nggak sampai 1 juta rupiah.

Saya rasa itu sudah cukup. Beda dengan keinginan. Kalau keinginan, Anda pasti inginnya Samsung Note 5 yang harganya 9 juta rupiah. Ini yang bahaya… Paham kan? Contoh lainnya adalah motor. Kalau buat sekedar “wira-wiri” kesana-kemari buat urusan bisnis, saya rasa vega R second harga 4 juta sudah cukup.

Berhubung kata “ingin” sudah merasuki jiwa Anda, jadilah Anda membeli Yamaha N-MAX harga 27 juta, wkwkwkwkwkwwk… “Wokeh dok. Saya tahu sekarang. Cuman masalahnya, kapan saya bisa membeli barang-barang “indah” tersebut?”. Tenang, saya punya rumusnya. Mau tahu? Rumusnya adalah

Jangan membeli sesuatu yang Anda inginkan dari income aktif Anda.
Belilah hal-hal yang Anda sukai dari aset atau income pasif Anda.

Jadi, jika Anda sudah mendapatkan income harian, mingguan, bulanan dan tahunan seperti yang saya bahas di artikel cara merintis usaha dan cara keluar dari hutang bagian 1, semua pengeluaran Anda full untuk membiayai kebutuhan hidup Anda dan bisnis Anda. Kalau beli motor ya motor yang second dan biasa-biasa aja… yang penting bisa buat operasional.

Kalau beli HP ya HP yang biasa-biasa aja… yang penting bisa komunikasi dengan klien… kalau mau makan, ya pake tempe sama tahu saja… sesekali boleh lah makan seafood, yang penting Anda sehat dan bisa beraktifitas membangun bisnis dan yang semisalnya. Nah, sisanya buat beli buku bisnis, beli tiket seminar bisnis, ikut pelatihan sana-sini, bayar uang konsultasi marketing, traktir makan mentor bisnis Anda sembari menggali ilmu beliau dan lain sebagainya.

Baru setelah bisnis yang Anda bangun sudah menghasilkan, Anda boleh membeli mobil ford fiesta, beli rumah yang luas halamannya atau beli HP yang agak “gantengan” dikit, sebagai hadiah dari kerja keras Anda. Mudah kan? Susah lagi, wkwkwkwkwwk… Sudah jelas kan? Nah, kalau sudah jelas, mari kita lanjutkan ke cara merintis usaha sendiri dan cara bebas hutang yang terakhir, yaitu yang ketujuh…

Cara Merintis Bisnis & Cara Bebas Hutang #7 : Action, Fokus dan Mulailah Seadanya

Nah, cara merintis bisnis baru dan cara bebas hutang yang terakhir adalah beranikan diri Anda untuk segera memulai bisnis utama Anda di saat Anda sudah siap. Apa maksudnya sudah siap? Maksudnya adalah business plan Anda sudah jadi dan modal Anda yang Anda dapat dari income tahunan sudah mencukupi.

“Lho dok, darimana belajar business plan?” Ya dari cara merintis usaha kecil yang kelima lah… Kan di cara merintis usaha yang kelima tersebut Anda disuruh mempelajari segitiga B-I, benar kan? Jika Anda menguasai segitiga B-I, maka Anda akan bisa membuat sebuah business plan. Tinggal cari aja panduan membuat business plan, beres dah. Wong inti dari business lan ya segitiga B-I itu kok.

“Oke, sekarang pertanyaannya, berapa modal yang harus terkumpul dok?” Well, seperti yang sudah saya terangkan di artikel tips mengembangkan usaha dengan cepat, modal yang harus terkumpul sebesar $4000. Kalau rupiahnya, tinggal kalikan saja kurs nya saja ya… Setelah bisnis Anda bisa berjalan “stabil” dengan modal tersebut, barulah Anda boleh mencari investor.d

Cuman masalahnya, walaupun Anda sudah siap secara skill dan modal, ada beberapa “penyakit” yang susah untuk Anda hindari. Apa saja penyakit tersebut? Ada 4 buah, dan berikut penjelasan beserta solusinya…

  1. Takut gagal.
    Ini penyakit yang paling sering menghinggapi orang yang ingin merintis bisnis pertamanya. Biar Anda nggak takut gagal, silahkan baca artikel tentang kebiasaan orang gagal.
  2. Menunggu produknya sempurna.
    Yang ini juga sama aja. Pengennya produknya super perfect dulu, baru ia mau untuk memulai merintis bisnis miliknya. Untuk mengatasinya, coba Anda baca artikel saya tentang kiat sukses bisnis.
  3. Gagal fokus, semua ingin diambil.
    Nah, kalau yang ini, kebalikan dari yang 2 di atas. Karena saking semangatnya merintis bisnis baru, semua “diembat” dengan kata lain “gagal fokus”. Anda baca artikel ini untuk lebih jelasnya.
  4. Ingin langsung besar.
    Waa ini… penyakit kambuhan yang susah dapet obatnya. Karena pengen segalanya segera teruwujud, akhirnya pinjam ke bank. Tetapi demi kebaikan Anda, ikutilah saran Warren Buffet tentang “menghindar dari Bank“. Bersabarlah dengan investasi Anda yang ada saja.

Sudah clear semua kan? Kalau sudah, saya rasa selesai sudah ke-7 pelajaran tentang cara merintis bisnis kecil ini. Cukup melelahkan juga ternyata ya? “Bener dok, capek. Tapi ada satu hal yang dokter lupa jawab. Dimana penjelasan mengenai cara keluar dari hutang nya? Kok yang dibahas cuman cara merintis usaha baru dan model pengembangannya saja?”.

Hmmm… begitu ya. Masak sih? Well, sebenarnya kalau Anda jeli, di artikel cara merintis usaha kecil & cara keluar dari hutang seri 2, Anda sudah bisa menjawabnya sendiri. Apa jawabannya? Jawabannya adalah pertama, saat income harian, income mingguan dan income bulanan Anda sudah mencukupi biaya hidup Anda, Anda sisakan dan Anda dahulukan income tahunan untuk membayar hutang Anda.

Benar kan? Dan jika ternyata income harian, mingguan dan bulanan tersebut Anda bisa menyisakan sedikit uang, Anda juga gunakan juga untuk membayar hutang. Jadi “titik utama dari cara keluar dari hutang” adalah pada langkah Anda mencari bisnis sampingan yang bisa menghasilkan income harian, mingguan, bulanan dan tahunan tersebut.

Jika Anda sudah bisa menemukan dan me-manage-nya, otomatis Anda bisa membayar hutang Anda.Tinggal Anda masukkan saja “kebutuhan membayar hutang tersebut” pada income bulanan misalkan atau Anda masukkan kepada income tahunan jika ternyata income bulanan tidak mencukupi.

Paham kan? Dan pada hakekatnya, dengan mempunyai bisnis yang sukses, insyaa Allah Anda akan terbebas dari hutang. Wong Anda membeli sesuatu tidak kredit, wkwkkwkwkw… Bahkan dengan mempunyai bisnis yang sukses, Anda bisa memberikan pinjaman ke orang lain yang membutuhkan, iya kan?

Kemudian cara bebas dari hutang yang kedua adalah dengan BERDO’A. Mengapa? Karena do’a-lah seutama-utamanya cara lepas dari hutang. Jika Anda sudah berusaha dengan maksimal, segera mintalah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla karena Dia-lah yang benar-benar bisa membebaskan Anda dari hutang. Manusia hanya bisa berusaha, Allah lah yang menentukan hasilnya, okay?

Well, sebagai penutup, monggo… mari kita sama-sama mencoba untuk melaksanakan “7 Cara Merintis Bisnis Kecil & Cara Lepas dari Hutang” di atas. Semoga dengan wasilah atau perantara di atas, impian dan keinginan Anda serta saya dikabulkan oleh Allah SWT, Aamiin… Selamat mencoba !!

(sumber gambar : androidspin.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

7 Comments

  1. rudianto

    September 10, 2015 at 22:36

    wah artikel ini sangat memotifasi…
    cuma saya ada pertanyaan sedikit dok,
    dalam dunia usaha ada istilah jika usaha anda tidak berjalan sesuai dengan rencana/rugi segera ditinggal dan cari usaha yg lainnya sebelum kerugian nya menjadi lebih besar, pertanyaan saya kpn waktu yg tepat untuk melakukan hal tsb, mohon pencerahannya dok?

    • Om Nip-Nip

      September 11, 2015 at 06:47

      @Rudianto : banyak pendapat mengenai hal itu… ada yang bilang 6 bulan khusus usaha makanan, ada yang bilang kurang dari itu. Tetapi kalau saya pribadi, saya lebih suka mengadopsi kebiasaan orang Jepang, yaitu 3 tahun. Jika Anda benar2 membuat business plan yang bagus, saya rasa kerugian di saat awal2 usaha bisa ditekan.

  2. Zuni kristanto

    September 11, 2015 at 20:12

    Om,cara bagi pembagian hasil yg betul gimana ya,?saya pemilik tempat dan pengelola trus sodara sebagai investor.terima kasih

    • Om Nip-Nip

      October 10, 2015 at 05:21

      @Zuni Kristanto : Tempat Anda dinominalkan karena itu dianggap modal. Lalu Anda dapat bagian dobel, yaitu sebagai pemilik modal dan sebagai pengelola. Jumlah prosentasenya terserah kesepakatan Anda berdua. Misal 70% 30% (sudah termasuk bagian Anda sebagai pemilik modal).

  3. Software Akuntansi

    October 9, 2015 at 11:33

    artikel ini bikin saya jadi pengen bikin usaha sendiri, gaya bahasanya enak dan mudah dipahami. Dan yang paling penting isi nya bermanfaat bangett. makasih mas.

  4. ahmad

    February 19, 2016 at 00:35

    Terimakasih atas pencerahaannya, semoga anada semakin sukses amin

  5. abu syurahbil

    July 21, 2016 at 14:18

    Assalaamualaikum, om nip2 makasih ilmunya…

    Mau kenalan lebih jauh via apa om?

    Om taklim di mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *