Krisis Moneter Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini (Part 1)


By on October 12, 2015
Krisis Moneter Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini (Part 1)

Dollar naik rupiah melemah ya om? Wah, krisis moneter Indonesia dong. Kira-kira apa penyebabnya? Ane kagak tahu pasti sih. Cuman gimana kalau om dan tante baca “omong kosong” ane ini, ho..ho..ho..

Pertama… om dan tante pasti tahu tentang perbudakan kan? Jelas… perbudakan adalah cara paling enak dan menguntungkan buat mengeruk kekayaan sebuah negara.

Aset dari perbudakan yang paling utama adalah manusia. Dan manusia yang paling bisa diperbudak adalah manusia yang lemah, baik lemah otaknya, lemah fisiknya, lemah mentalnya dan lemah yang lain-lainnya…

So, negara dengan manusia yang super banyak dan padat plus super lemah adalah target dari perbudakan…

Kedua… om dan tante pasti tahu juga kalau perbudakan di masa sekarang sudah bukan “jamannya” lagi. Jadi kalau ada suatu organisasi atau negara memperbudak negara lain, pastilah ramai-ramai negara tersebut di-bully… melanggar HAM katanya.

Lalu apakah perbudakan di masa sekarang sudah tidak ada? Wo..ho..ho..ho.. Tentu masih ada lah. Lha bagaimana caranya seseorang atau sebuah organisasi atau sebuah negara bisa memperbudak orang atau negara yang lain? Mudah, dengan cara membayar mereka untuk bekerja dengan harga yang sangat murah…

Ketiga… Eh, siapa yang mau dibayar murah dok? Orang sekarang kan bisa berpikir kritis. Pasti mereka akan menolak bekerja jika dibayar dengan harga yang sangat murah. Ya.. benar sekali itu. Tidak ada yang mau dibayar murah.

Lalu gimana caranya? Ya harus “dipaksa” dibayar murah. Lho… kok bisa? gimana cara memaksanya? Dengan inflasi !! Orang yang tadinya biasa dibayar 2 juta per bulan, dengan inflasi, jadi bisa dibayar hanya dengan harga 1 juta per bulan…

Makanya om dan tante jangan heran kalau nilai mata uang rupiah selalu turun… nggak akan pernah naik. Lha wong dibuat supaya turun, wkwkwkkwkwk… Ah, yang bener dok mata uang kita dibuat inflasi. Apa buktinya? Banyak… tapi satu aja yang ane mau buktikan.

Pernah nggak dari jaman jebot dulu, istilahnya orde lama, sampai sekarang ini nilai mata uang kita nggak turun? Nggak pernah kan? Itu buktinya. Beda dengan dollar yang bisa naik turun (*walau seringnya naik, hi..hi..hi.. ) atau riyal misalnya.

Mengapa bisa demikian? Karena nilai mata uang sekarang tidak didasarkan atas jumlah emas yang beredar. Jadi pokok e waton dicetak ae… Asal di cetak saja. Waa ini salah satu biang keroknya. Panjang deh ceritanya. Bisa di googling sendiri…

Keempat… Apa sih dampak inflasi? Dampaknya? Dahsyat om !! Dengan inflasi, orang dipaksa bekerja lebih keras dan lebih lama untuk bisa mendapatkan uang dengan nilai yang sama seperti sebelum terjadinya inflasi.

Ibarat dulu hanya bekerja 8 jam per hari bisa mendapatkan uang senilai 2 juta, sekarang harus bekerja 12 jam agar bisa mendapatkan uang senilai 2 juta. Artinya mereka harus bekerja lebih keras dan lebih lama lagi.

Iya kan? Makanya semakin hari orang semakin tidak punya waktu. Selalu saja merasa kurang. Dulu waktu ane SD, beli minuman S*rite hanya 175 rupiah. Sekarang mak jang…. 4 ribu rupiah !! Kerja keras… kerja lebih lama… lama-lama kerja rodi, ha..ha..ha.. 

Kelima… om dan tante yang sudah bekerja pasti sudah pernah ngrasain capeknya bekerja. Dan pelampiasannya, pasti om dan tante butuh “sebuah mainan” untuk membalas rasa capek tersebut. Mainannya seperti apa?

Bisa dengan main gokart… bisa dengan beli gadget mahal… bisa dengan beli mobil dan motor… bisa dengan beli hotwheel satu set… dan sebagainya. Parahnya, semakin dewasa seseorang, semakin mahal mainannya. Tuh temen ane demen banget sama burung yang harganya belasan juta.

Kalaupun tidak butuh mainan (*kayaknya nggak mungkin deh), minimal om dan tante beli beras, tempe dan telor atau beli sirup rasa jeruk lah buat hilangin capeknya bekerja. Cuman, om dan tante dipaksa harus beli barang impor. Kan semuanya sekarang serba impor.

Makan tempe, kedelainya dibuat gimana caranya harus impor. Makan nasi goreng, berasnya juga harus impor. Pokoknya jangan sampai om bisa buat tempe dengan kedelai sendiri lah. Bisa kurang entar pendapatan mereka, wkwkwkwkkwkw… 

Terus apa masalahnya dok? So what gitu loh dengan barang impor… Masalahnya adalah barang impor itu pasti lebih mahal dari barang sendiri. Mau bukti? Coba aja ente beli beras di propinsi sebelah dengan di warung kelontong tetangga sebelah. Besar mana biaya transport-nya? Lha emangnya kalau beli beras ke propinsi sebelah, biaya pengirimannya nggak dimasukkin ke HPP?

Keenam… Apakah berhenti sampai di sini saja? Oo… tentu tidak !! Selain beli beras dan kedelai impor, om dan tante juga diiming-imingi dengan apa yang namanya “gaya hidup”… Caranya adalah dengan “mempropagandakan” bahwa produk impor nan cantik itu sangat bergengsi.

Om dan tante “diracuni” dengan gaya hidup yang “lebih modern dan lebih bermartabat” !! Mereka tahu betul dengan permainan liabilitas yang satu ini. Baju merk luar, jam tangan merk luar, fast food merk luar hingga celana dalam merk luar. Dan “fenomena” ini membuat om dan tante 2 kali kena “jebakan betmen”.

Yang pertama om dan tante kerja dan dibayar semakin hari semakin murah. Yang kedua, uang yang om dan tante peroleh dengan susah payah kembali lagi ke mereka dengan nilai yang semakin lama semakin rendah.

Lha gimana nggak kembali kepada mereka dengan nilai yang makin rendah? Wong om dan tante beli barang impor bayarnya pake rupiah yang makin hari makin rendah nilai tukarnya. Mereka yang buat dan om dan tante yang bayar. Semakin miskinlah om dan tante, wkwkwkwkwk…

Ketujuh… Karena barang-barang harganya semakin melangit dan gaji om nilainya semakin rendah, om dan tante terpaksa harus “ngutang”. Lha iya tho? Lha emangnya harga mobil sama harga motor murah kayak harga tahu goreng? Nggak kan? Beli S*msung G*laxy Note 5 aja harganya 9 juta rupiah kan?

Berapa gaji om dan tante sebulan? Kalau cuman 10 juta rupiah, nggak cukup tuh. Biasanya ujung-ujungnya pasti kredit. Yah… paling nggak sukur-sukur bisa nabung per bulan biar nggak kredit. Cuman masalahnya kalau buat beli mobil sama rumah, susah kalau nabung.

Dan biasanya orang-orang akan tergoda untuk kembali “ngutang”. Berita buruknya, ngutangnya nggak cuman 3 bulan mas bro… Tapi bisa sampe 25 taon !! Lha wong kalau kalau dipaksakan nabung, besok pas bisa beli rumah harganya semakin nggak masuk akal. Bisa-bisa malah nggak dapet itu rumah…

Lha kalau om dan tante ngutang buat beli rumah umur 35 taon, berarti om dan tante bisa nglunasin utang om dan tante pas umur 60 taon. Jadi hampir seumur hidup om dan tante “ngutang”. Lha ini yang mereka inginkan. Om dan tante terjebak dalam lilitan hutang. Pikiran om dan tante tidak bisa kemana-mana.

Endingnya bisa ketebak… om dan tante takut keluar dari pekerjaan. Lha kalau keluar om dan tante nggak punya duit. Kalau nggak punya duit om dan tante nggak bisa bayar cicilan mobil dan jam rolex. Jadinya selamanya om dan tante bekerja dan digaji dengan gaji yang semakin lama semakin murah, hadeeehhh…

Apa berhenti sampai di situ saja? Sekali lagi ane jawab… ya jelas tidak lah !! Problemnya jelas makin bertambah rumit. Lagi-lagi penyedia hutang tersebut adalah “pihak luar”. Jadi 3 kali deh om dan tante kena jebakan betmen. Di bayar semakin murah, ngluarin duit buat belanja makin banyak karena apa-apa mahal, mbayar utang dengan bunga plus cicilannya yang makin tinggi karena nilai rupiah makin anjlok.

Iya loh… 25 tahun adalah periode yang cukup lama yang bisa memungkinkan untuk terjadi krisis moneter atau inflasi gila-gilaan lagi. Makanya om dan tante lihat, dealer mobil dan motor lebih suka om bayar kredit daripada bayar cash. Lebih untung mereka, wkwkwkwk…

Kemudian setelah om dan tante tua, pas waktu rumah om dan tante lunas… (*artinya pas saat umur om dan tante 60 tahun), buzzzz… mereka nggak butuh lagi om dan tante. Om dan tante ditendang. Habisnya om dan tante sudah nggak punya tenaga buat kerja.

Selain itu om dan tante juga nggak punya nafsu lagi buat nambah “mainan baru”.  Wong sudah tua. Tinggal maaf, nunggu “wafatnya” saja. So mereka akan berkata, “that’s enough for us”… cukup sudah buat kita. Mari kita cari lagi mangsa yang baru yang masih muda. Persis kayak perbudakan kan? Habis manis, sepah dibuang, wkkwkwkwkwkw… 

Ngomong-ngomong, enak kali ya bank… developer properti yang buat rumah modalnya pinjam ke bank, si penjual belinya juga pake duit bank… yang ngangsur utang mbayar cicilannya juga ke bank. Pantesan bank makin lama makin menjamur, baik yang legal maupun yang ilegal alias bank plecit.

Lalu gimana solusinya? Bagaimana cara mengatasi “perbudakan” yang berujung krisis moneter 2015? Jelas… tidak ada solusi yang sempurna buat masalah yang satu ini. Terlalu banyak kepentingan, individu dan organisasi yang terlibat yang terlalu kuat untuk om dan tante lawan.

Tapi ane punya saran untuk mengatasi krisis moneter Indonesia yang cukup melegakan buat om dan tante. Apa saran untuk mengatasi krisis moneter di Indonesia ini? Sarannya ada di artikel “Krisis Moneter Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini” bagian 2. Maap ya, udah kebanyakan nih nulisnya. Mau rehat bentar biar nggak pegel tangannya plus panas otaknya, ha..ha..ha..

(sumber gambar artikel krisis moneter Indonesia 2015 : penyebab dan solusinya ada di sini (part 1) : dallastexasrealestateblog.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

One Comment

  1. wak genk

    December 13, 2015 at 13:58

    keren,,,jd gag sabar nunggu episode brikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *