Krisis Ekonomi Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini (Seri 2)

By on October 14, 2015
Krisis Ekonomi Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini (Seri 2)

Sambil minum kopi plus sedikit biskuit buat penambah nikmat di hari ini, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai ” Krisis Ekonomi Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini ” Bagian 2.

Jadi begini, kemarin ane sudah cerita dengan panjaaannnggg dan lebar mengenai “perbudakan terselebung” yang ujung-ujungnya terkait dengan krisis ekonomi Indonesia yang terjadi sekarang ini. Jelas pasti ada yang pro dan ada yang kontra, benar kan?

Tetapi anggaplah teori penyebab krisis ekonomi Indonesia saya ini “cacat data”, tidak bisa dipertanggungjawabkan dan bla.. bla.. bla… 

Tetapi om dan tante tidak bisa memungkiri kan bahwa inflasi tetap terus terjadi, kebiasaan hutang masyarakat Indonesia yang terus meningkat, harga barang-barang yang semakin mahal serta mata uang rupiah yang semakin tidak bernilai terjadi di negara kita yang tercinta ini?

Parahnya, sebagian dari kita cenderung sudah melampaui batas dengan meneriakkan di tempat-tempat umum bahwa pemerintah kita korup, selalu menaikkan pajak tanpa berpikir panjang, tidak melindungi warga negaranya, antek negara tertentu serta mereka seperti ini dan seperti itu…

Pertanyaannya sekarang adalah terus om dan tante mau apa? Mau protes ke pemerintah? Jelas hal itu merupakan sebuah tindakan yang tidak terpuji. Atau om dan tante mau menyalahkan pihak A dan pihak B? Sekali lagi, itu bukan tindakan yang cerdas. Sekalipun om dan tante melakukan hal itu, ane jamin tidak akan ada perubahan besar yang terjadi dalam hidup om dan tante.

Yang harus om dan tante lakukan adalah om dan tante berusaha untuk menjadi seorang yang berada pada kuadran kanan… menjadi seorang business owner dan investor. “Lho kok bisa dok? Apa alasannya?”. Om dan tante mau tahu mengapa menjadi seorang business owner atau investor bisa mengatasi krisis ekonomi Indonesia?

Ups… sebentar, sepertinya ane berlebihan. Bukan mengatasi krisis ekonomi Indonesia ding… Maksud ane adalah bisa membantu mengatasi krisis finansial yang terjadi pada om dan tante. Entah yang diakibatkan oleh krisis ekonomi Indonesia, “perbudakan terselubung”, inflasi yang menggila ataupun hal-hal yang what the h*ll lah…

Jadi om dan tante mau tahu? Wokeh, silahkan om dan tante mencermati penjelasan dan argumen ane di bawah ini :

Yang pertama : terlatih untuk membaca keadaan dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

Percayalah, hal seperti ini adalah sebuah SIKLUS yang BERULANG. Masih ingat kan krisis ekonomi 1997, krisis ekonomi 1998 dan krisis ekonomi 2008? Ini siklus berulang men… 10 tahunan sekali. Bahkan kalau untuk skala internasional, om Kiyosaki mengatakan bahwa siklus yang semisal dengan ini berlangsung 20 tahunan sekali.

Cuman ane nggak tahu kok krisis ekonomi 2015 ini sudah terjadi sekarang. Dipercepat kali ya, biar perbudakannya bisa lebih lama, wkwkwkwkwk… Nah, di saat Anda belajar menjadi seorang pebisnis dan investor, om dan tante akan diajari untuk melihat, memprediksi dan mengatasi hal ini. 

Lha gimana nggak diajari… wong hal tersebut termasuk bagian dalam “kurikulum bisnis” agar Anda bisa menjadi pebisnis dan investor yang sukses. Kalau nggak bisa ngatasi hal tersebut, bukan pebisnis atau investor yang sukses namanya… pebisnis dan investor yang bangkrut, ha..ha..ha..

Ini penjelasan detailnya… Begini, dalam bisnis dan investasi, om dan tante akan diajari tentang proforma laporan keuangan. Lha, salah satu “skill” dalam menentukan proforma laporan keuangan adalah memprediksi penjualan “month to month” selama 3 hingga 5 tahun ke depan.

Salah satu variabel yang diperlukan agar om dan tante bisa membuat proforma tersebut sangat akurat adalah dengan memprediksi situasi ekonomi Indonesia. So, kalau om dan tante tahu kapan siklus krisis ekonomi itu akan datang, perusahaan om dan tante pasti akan berencana untuk menyimpan uang cash sedikit lebih banyak dari biasanya pada saat tersebut.

Hal ini om dan tante lakukan dikarenakan om dan tante tahu bahwa daya beli masyarakat selalu menurun saat “krismon” sedang melanda. Dan di saat itu jelas uang cash lebih berharga dibandingkan dengan aset perusahaan.

Kalau habit om dan tante sudah terlatih seperti hal ini, otomatis di dalam keuangan pribadi om dan tante juga akan melakukan hal yang sama… menahan keinginan buat belanja sehingga om dan tante lebih banyak untuk menyimpan uang.

Cuman berita buruknya, hal itu bisa om dan tante lakukan jika om dan tante sudah benar-benar TERLATIH. Jika tidak, om dan tante hanya tahu teorinya saja. Begitu kejadian tersebut datang, om dan tante tidak bisa berbuat apa-apa, seperti layaknya seseorang yang mau tenggelam tetapi ia hanya tahu teori bagaimana cara berenang dengan baik…

Yang kedua : tidak terjebak dengan “kelelahan berpikir” sehingga bisa berpikir satu langkah lebih maju.

Tujuan dari bisnis dan investasi adalah agar om dan tante bisa mendapatkan apa yang dinamakan pasif income… terbebas dari pekerjaan yang membelenggung tetapi masih bisa mempunyai income yang cukup layak bahkan lebih.

Jika om dan tante termasuk pengusaha sukses yang beruntung, om dan tante akan mendapatkan hal itu. Hidup om dan tante akan lebih berarti. Om dan tante bisa lepas dari “kelelahan berpikir” akibat “kelelahan bekerja”. Paham maksud ane?

Begini, jika om dan tante punya waktu yang lebih banyak, pikiran om dan tante bisa lebih fresh. Om dan tante bisa memikirkan sesuatu yang lebih berguna selain hanya berpikir untuk mencari uang, melunasi cicilan di bank dan bersenang-senang di akhir pekan.

Bagaimana hal itu bisa terjadi jika seumur hidup om dan tante selalu lelah akibat bekerja dari pagi hingga sore? Om dan tante pasti tidak sempat memikirkan sesuatu yang lain daripada yang lain seperti kenapa krisis ekonomi ini bisa terjadi, apa tanda-tandanya, bagaimana cara mengatasinya, apakah televisi layak dibeli ataukah tidak, mengapa uang kertas bisa menjadi berharga dan sebagainya.

Pikiran om dan tante sudah “bunek”… lelah dengan tekanan pekerjaan, lelah dengan hutang yang harus dibayar, lelah dengan jadwal nikahan dan “silaturahmi lebaran” yang dipaksakan dan lelah dengan rutinitas yang sangat membosankan. Jadinya om dan tante inginnya hanya ada dua… berlibur di akhir pekan dan di waktu cuti.

Pikiran om dan tante sudah tidak mau lagi dimasukin dengan hal-hal yang bagi om dan tante membuat pusing kepala (*tentunya dalam tanda kutip) seperti hal-hal yang ane sebutkan tadi. Riweh, ribet, kurang kerjaan dan bla..bla..bla.. benar kan?

Padahal kalau pikiran om dan tante sudah lelah, om dan tante sudah barang tentu malas dan jengah untuk memikirkan bagaimana caranya mengatasi krisis ekonomi (*seperti krisis ekonomi di indonesia tahun 2015 ini), bagaimana caranya menjauhkan anak dari bahaya media elektronik dan bagaimana caranya bisa pasif income.

Tetapi kalau pikiran om dan tante sudah tidak lagi “lelah” akibat dari “tekanan pekerjaan dalam jangka waktu yang sangat lama”, om dan tante akan punya pikiran yang lebih fresh dan lebih banyak “longgarnya”. Dengan kondisi pikiran yang demikian, om dan tante bisa mempunyai satu langkah lebih maju dari kebanyakan orang dalam menilai dan menyikapi krisis ekonomi Indonesia ini. 

Yang ketiga : tahu beda aset dengan liabilitas sehingga tidak terpuruk saat krisis ekonomi Indonesia terjadi.

Kalau yang satu ini jelas !! Dengan bisnis dan investasi, om dan tante akan tahu “barang” mana yang dinamakan aset dan “barang” mana mana yang dinamakan liabilitas. “Lho, apa hubungannya tahu mana aset dan mana liabilitas dengan krisis ekonomi Indonesia dok?”.

Ya jelas ada hubungannya tho ya… Dengan mengetahui beda aset dengan liabilitas, om dan tante tahu bagaimana cara mengelola keuangan keluarga. Om dan tante tidak akan tertipu dengan iming-iming para “penjaja liabilitas” yang berlagak sebagai penjual aset yang menguntungkan.

Dengan demikian uang dan tabungan yang om dan tante punya tidak “sirna” begitu saja. Dan karena om dan tante sudah mempunyai aset yang menguntungkan, saat krisis ekonomi tersebut terjadi, om dan tante sudah punya amunisi yang cukup untuk bertahan hingga “badai krisis ekonomi” tersebut berlalu.

Om dan tante tidak bingung kan dengan penjelasan di atas? Jadi ibarat om dan tante tinggal di sebuah padang pasir yang di sana selalu datang badai pasir maut yang datang secara berkala, om dan tante punya bunker yang sudah terisi dengan persediaan makanan dan minuman yang cukup.

Yang om dan tante lakukan hanyalah menunggu badai pasir maut tersebut berlalu kemudian om dan tante keluar dari bunker milik kemudian melanjutkan “kehidupan” om dan tante seperti sedia kali… paham kan? Ane pikir nggak susah kok memahami artikel ane di atas…

“Hmmm… sekarang saya sudah mulai jelas mengapa menjadi seorang pebisnis dan investor bisa mengurangi dampak yang diakibatkan dari krisis ekonomi di Indonesia 2015 ini secara personal dok. Cuman otak saya sudah mulai panas nih. Masih ada yang lainnya kah dok?”.


Ya… masih ada !! Tetapi biar pikiran om dan tante tidak mendidih, pembahasan mengenai ” Krisis Ekonomi Indonesia 2015 : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini ” Seri 2 ini ane lanjutkan besok lagi, okay? Jangan sampai kelewatan ya? Bai-bai…

(sumber gambar krisis ekonomi dunia, krisis ekonomi global 2015 : www.world-crisis.net)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan.So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya.Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

2 Comments

  1. Daeng Situju

    October 16, 2015 at 20:25

    Luar biasa ulasannya dok. Bahasanya ringan dan mudah dimengerti masyarakat awam seperti saya. Terima kasih atas pencerahannya…

  2. Vita Maharani

    May 17, 2017 at 17:29

    Izin gabung bang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *