Krisis Keuangan Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini (Seri 3)

By on October 18, 2015
Krisis Keuangan Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini (Seri 3)

Artikel krisis finansial bagian ketiga ini akan melanjutkan pembahasan kita mengenai krisis keuangan Indonesia dari seri-seri sebelumnya. Jadi ane harap om dan tante tidak bosan membacanya ya.

Soalnya biasanya kalau pembasahan model-model begini, bisa sampai 5 seri om dan tante. Nggak tahu tuh… pada bosan bacanya atau malah tambah penasaran dan semangat menyelesaikannya.

Masalahnya ane jatuhnya repot kalau pembahasan mengenai topik yang agak berat-berat yang butuh penjelasan panjang dan lebar ane tulis dalam satu postingan. Nanti capek bacanya plus keburu pedes matanya, wkwkwkkwkw…

Wokeh, mari kita lanjutken… argumen selanjutnya mengapa menjadi seorang pebisnis dan investor bisa mengurangi dampak yang diakibatkan krisis keuangan Indonesia 2015 adalah ini…

Yang keempat : jauh dari kartu kredit, jauh dari bank, jauh dari hutang sehingga jauh dari “kemiskinan” khususnya pada saat krisis keuangan.

Untuk yang satu ini, ane kasih “syarat khusus”. Apa syarat khususnya? Yaitu orang yang menjalankan bisnis dan investasinya tidak menggunakan uang bank. Mengapa harus begitu? Ya sama saja kalau om dan tante menggunakan uang bank.

Karena penyebab “kehancuran ekonomi” dunia ini disebabkan karena mereka menggunakan uang kertas tanpa didasari dengan jumlah emas yang beredar… tidak ada harganya. Like Kiyosaki said, uang kertas yang diikuti dengan hutang “masal” itu seperti tumpukan istana dari kartu… sangat rapuh. Begitu tertiup angin, buzzzzz… hancur semua. Itulah yang namanya krisis keuangan.

Ane punya teman… bapaknya seorang pegawai perusahaan besar di Indonesia. Mereka termasuk keluarga berada. Pada tahun 1994 an kira-kira, beliau memutuskan untuk berhenti kerja dan mulai berbisnis. Waktu itu ia mengajukan pinjaman dengan nilai yang cukup fantastis… 30 juta rupiah.

Nah belum sampai bisnis beliau berjalan dengan lancar, terjadilah krisis keuangan indonesia 1997. Akhirnya hutangnya membengkak dan hingga kini, beliau tidak bisa lagi kembali seperti pada kondisi sebelum beliau hutang. Om dan tante masih belum percaya? Ane beri buktinya lagi…

Om dan tante silahkan lihat timeline Facebook nya om Saptuari, owner Kedai Digital dan Bakso Granat. Beliau ramai-ramai mengajak para pengusaha untuk menjadi pengusaha bebas riba. Atau om dan tante lihat timeline-nya mas Mono… pemilik ayam bakar mas Mono. Beliau juga “hijrah” dari yang tadinya menggunakan hutang dari bank, menjadi pengusaha yang mandiri, bebas hutang dari bank.

Bahkan guru bisnis mereka, pakde Purdi Chandra, yang dulu selalu “mengagung-agungkan” pinjaman dari bank… kini telah beralih “aliran” menjadi pengusaha bebas hutang dan riba. Teman dekat ane sendiri, mas Eko Yulianto, owner dari Tela-Tela Indonesia juga sudah masuk grup pengusaha bebas hutang dan riba. Dan berita buruknya, ada puluhan pengusaha yang “bersama mereka” bangkrut gara-gara hutang dengan bunga. Gimana tuh?

Sssttt… sebentar. Ane beritahu sebuah rahasia tentang buruknya hutang dengan bunga… Anggaplah om dan tante tidak punya harta… nol. Kemudian om dan tante hutang kepada bank 500 juta rupiah buat beli rumah dan mobil. Om dan tante seolah-olah kaya karena punya aset sebesar 500 juta rupiah.

Tetapi pada hakekatnya, om dan tante lebih miskin dari sebelum om dan tante hutang. Mengapa demikian? Karena om dan tante yang tadinya tidak punya hutang, jadi punya hutang 500 juta rupiah.  “Lho dok, kan akhirnya saya punya aset senilai 500 juta rupiah?”. Wooo… siapa bilang?

Emangnya rumah dan mobil yang om beli dengan hutang dari bank itu senilai dengan barang yang dijual? Tentu tidak !! Karena kalau sama, ya bank nya rugi lah… gimana toh? Contoh yang gampang, om dan tante kredit motor dengan menggunakan bank. Coba om dan tante hitung, berapa harga aslinya jika om dan tante ambil jangka waktu pembayaran yang paling lama…

Harga motor cash 12 juta rupiah, harga kreditnya bisa sampai 24 juta rupiah. Jadi kalau om dan tante beli mobil dan rumah seharga 500 juta rupiah, pada hakekatnya om dan tante hanya punya aset senilai 250 juta rupiah. Paham kan? So, punya aset 250 juta rupiah tapi hutang 500 juta rupiah, apa nggak tambah miskin tuh?


Belum lagi jika om dan tante nggak bisa bayar. Harga rumah dan mobil yang om dan tante bisa ditaksir bank jauh lebih rendah buat nglunasin utang om dan tante. Itu pun kalau inflasi besar-besaran tidak terjadi. Kalau terjadi seperti krisis keuangan Indonesia 2015 in? Hedeeehhh… om dan tante bisa jadi tambah melarat. 

Ingat, hutang… apapun kemasannya, adalah representasi dari kemiskinan. Om dan tante hutang berarti om dan tante pada hakekatnya miskin, meskipun aset om dan tante banyak. Dan sekali lagi ane ingatkan, hidup paling nyaman itu kalau hidup nggak di kejar-kejar utang… benar nggak? Jadi percuma kalau om dan tante memutuskan untuk menjadi pengusaha atau investor modalnya dari hutang.

Nggak ada bedanya dengan mayoritas orang yang terjebak dengan hutang seumur hidupnya, seperti yang ane jelaskan di artikel krisis keuangan Indonesia bagian 1. Nah, balik lagi ke topik semula, dengan menjadi pebisnis dan investor (tentunya yang nggak pake hutang), om dan tante punya kesempatan untuk membeli barang “CASH” lebih besar daripada yang lainnya.

Ane bukannya meragukan profesi yang lain tidak bisa membeli barang secara tunai tanpa hutang. Bukan demikian. Ada juga yang punya prinsip mulia “tak berhutang” di dalam kehidupan mereka. Tapi om dan tante bisa lebih dari mereka karena om dan tante sudah “terlatih” untuk menghindari hutang di bisnis dan investasi.

Skill tersebut tersebut tidak bisa didapatkan kecuali dengan terjun langsung membangun bisnis dan investasi tanpa hutang. Om dan tante akan terbiasa dengan hal ini nantinya. Selain itu, dengan bisnis dan investasi, peluang om dan tante untuk bisa melipatgandakan pendapatan lebih besar daripada profesi yang lainnya.

Berapa banyak jabatan yang tinggi diperebutkan banyak orang dalam sebuah perusahaan? Satu posisi manager dengan gaji puluhan juta diperebutkan oleh belasan, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang. Iya apa iya?

So, dengan terlatihnya om dan tante untuk MENUNGGU dan BERSABAR hingga om bisa membeli sesuatu dengan CARA CASH disertai dengan potensi PENGHASILAN yang BESAR dari bisnis dan investasi, om dan tante akan JAUH dari KARTU KREDIT, JAUH dari BANK, JAUH dari HUTANG sehingga om dan tante JAUH dari KEMISKINAN.

Sekali lagi ane katakan, hidup itu akan terasa lebih indah kalau om dan tante nggak punya hutag, iya kan? Oh iya… hampir lupa. Ane punya satu lagi “quote” dari orang terkenal yang menyarankan kepada om dan tante untuk berbisnis dan berinvestasi dengan apa yang om dan tante punya… tanpa hutang !! Mau tahu seperti apa quote nya?

Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yang kau miliki.

Mantabs kan? Mau tahu siapa “pemilik” quote tersebut? Warren Buffet… orang terkaya nomer 2 di dunia !! Masih mau “ngeyel”?… wkwkkwkwkwkw. Bahkan dia, yang mungkin jelas-jelas tidak mengenal arti riba, tetap punya prinsip yang bagus… TIDAK BERHUTANG. Dibaca aja penjelasannya di sini. Lha om dan tante gimana? Masak kalah, ho..ho..ho..

So, sudah semestinya om dan tante tahu bahwa bank itu mendapat keuntungan dari meminjamkan uang. Semakin banyak uang yang dipinjamkan semakin untunglah bank. Jadi mereka akan “menyerbu” om dan tante dengan kartu kredit, leasing, pinjaman usaha, pinjaman pribadi dan bla..bla..bla.. Mereka akan “memaksa” om dan tante untuk berhutang.

Jadi… bertahanlah !! Jangan tergiur kesenangan jangka pendek, okay? Om dan tante tidak tahu secara pasti separah apa badai yang bernama krisis keuangan Indonesia ini. Jangan pertaruhkan dengan berhutang menggunakan uang kertas yang pada hakekatnya tidak bernilai. Ingatlah selalu bahwa hutang = kemiskinan dan hutang x krisis keuangan = kebangkrutan !! 


Well, berhubung sudah banyak yang ane tulis… seperti biasa, pembasan tentang ” Krisis Keuangan Indonesia : Penyebab dan Solusinya Ada di Sini ” Seri 3 ini ane teruskan nanti lagi ya? Selamat berhari libur, jangan lupa… tetep melek finansial !!

(sumber gambar artikel krisis keuangan Indonesia 2015, krisis keuangan Indonesia 1997, krisis keuangan Indonesia 1998, krisis keuangan Indonesia 2008 : www.inceif.org)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *