6 Sistem Upah yang Berlaku di Indonesia yang Harus Anda Tahu (Bagian 2)

By on October 19, 2015
6 Sistem Upah yang Berlaku di Indonesia yang Harus Anda Tahu (Bagian 2)

Kembali berjumpa dengan saya lagi di artikel 6 Sistem Upah yang Berlaku di Indonesia yang Harus Anda Tahu Bagian 2. Sudah siap untuk membaca kelanjutannya dari “kisah ini”?

Kalau sudah okay, saya lanjutkan pembahasan tentang sistem upah yang berlaku di Indonesia. Kemaren Anda sudah tahu 6 sistem upah yang berlaku di Indonesia kan?

Apa saja coba? Upah langsung, gaji, upah satuan, komisi, premi shift kerja dan tunjangan tambahan… benar? Tepat sekali !! Sekarang saya akan berikan “sedikit tambahan” tentang upah yang tidak termasuk dari 6 sistem upah yang berlaku di Indonesia tersebut.

Apa itu? Yaitu upah insentif. Insentif di sini menunjukkan suatu arti tentang dorongan kerja yang efektif dari karyawan. Jadi tujuan dari upah insentif ini adalah untuk mendorong agar karyawan Anda bisa bekerja lebih produktif.

Tentu saja Anda tidak bisa menentukan sembarangan upah insentif ini. Anda perlu keahlian, pengetahuan dan kebijaksanaan tentang proses produksi yang harus dilakukan. Karena keduanya saling berkaitan. Semakin rumit proses produksi Anda, semakin tinggi upah insentif yang harus Anda berikan. So, karakteristik pokok dari upah insentif yang baik adalah sebagai berikut :

  • Harus menunjukkan penghargaan kepada karyawan atas produktivitas mereka.
  • Harus dapat dipakai untuk mencapai tujuan produktif per karyawan secara layak.
  • Tambahan upah yang diperoleh karyawan harus paling sedikit diseimbangkan dengan biaya produksi terendah.

Sudah paham dengan penjelasan di atas? Pasti belum ya? Bruwet ketoke wis… wkwkwkwkkwk. Saya tulis pakai bahasa yang lebih “membumi” ya. Itu tulisan saya copas langsung dari buku, tanpa embel-embel tambahan lainnya. Makanya bahasanya kaku, ha..ha..ha..

Begini… yang namanya upah insentif, itu harus bisa “mencakup” 3 hal di atas. Kalau tidak bisa mencakup 3 hal di atas, bukan upah insentif yang jos gandhos namanya.

Upah insentif itu harus bisa terlihat “WOW” di mata karyawan sehingga mereka merasa dihargai (poin pertama), harus bisa meningkatkan kinerja karyawan sehingga hasilnya lebih “WOW” dari hari-hari biasanya (poin kedua) dan besar upah minimalnya harus Anda seimbangkan dengan biaya produksi Anda sehingga tercipta keseimbangan yang “WOW” (poin ketiga).

Kalau upah insentif itu tidak mencakup salah satu dari ketiganya, itu bukan upah insentif yang baik. Contohnya jika ternyata upah insentif tersebut tidak bisa menaikkan produktifitas karyawan Anda, berarti dia tidak sesuai dengan poin kedua kan?

Lha aturannya kan Anda sudah tahu… harus mencakup ketiga “kriteria” di atas. Lepas satu saja, berarti bukan upah insentif yang bagus. Jadi secara tujuan, upah insentif yang Anda berlakukan tidak tepat sasaran. Bahasa gampangnya gini, buat apa upah insentif diberikan kalau karyawan tidak bisa termotivasi dan kemudian akan bekerja lebih optimal? Paham kan?

Kalau sudah paham, mari kita lanjutkan ke sub bab selanjutnya, yaitu macam-macam bentuk upah insentif. Bukan macam-macam sistem upah yang berlaku di Indonesia ya… Tetapi macam-macam sistem upah insentif thok… ini bagian dari 6 sistem upah yang berlaku di Indonesia. Well, jenisnya ada 2 :

Yang Pertama : Full Participation Plan

Apa itu full participation plan? Full participation plan adalah upah insentif bagi karyawan produksi (*sering-seringnya karyawan pabrik) di mana kegiatan ekstra pada tugas mereka dapat menghasilkan produksi tambahan.


Karyawan Anda beri insentif apabila mereka Anda anggap bekerja dengan efisien yang diukur dengan ratio prodk yang dihasilkan dengan standardnya (100%)… *mulai pusing ya, wkwkkwkwkwk… Setiap kenaikan 1% output melebihi standard (100%), karyawan tersebut akan menerima tambahan penghasilan sebesar kenaikan itu (1%).

Maka dari itu, upah insentif model yang seperti ini disebut juga 1 for 1 plan. (*sekarang nggak cuman pusing, mual juga ya, ha..ha..ha..). Anda bingung… saya juga, wkwkwkkwk… Biar nggak bingung, langsung lihat contoh perhitungannya ya. Di jamin Anda pasti langsung paham. Kalau nggak, ya berarti Anda kurang beruntung, ho..ho..ho..

Contoh : Anda punya usaha jual GPS Tracker. Cuman karena barang tersebut barang import, Anda harus merakitnya sendiri. Waktu standar untuk merakit GPS Tracker tersebut, mengetesnya serta membungkusnya ke dalam kotak kemasan adalah 2 jam.

Tarif yang Anda berikan per 1 jam nya adalah 25 ribu rupiah. Dan ternyata, ada seorang karyawan Anda yang bisa merakit GPS Tracker tersebut hanya dalam waktu 1,6 jam. Maka tingkat efisisensinya adalah :

  • (2 jam : 1,6 jam) x 100% = 125%.
  • Kelebihan tingkat efisiensi sebesar 25%, di dapat dari prosentanse tingkat efisiensi dikurangi prosentase waktu standar : 125% – 100% = 25%.
  • Maka tingkat penghasilan karyawan tersebut per 1 jamnya adalah Rp. 25.000,- + (25% x Rp. 25.000,-) = Rp. 31.250,-

Mudah kan cara menghitungnya? Mudah lah… gampang dipahami kok. Kebangetan kalau sampai Anda nggak paham, hmmmm…

Yang Kedua : Group Insentif Plan

Upah insentif jenis yang kedua adalah Group Insentif Plan. Insentif ini diberikan kepada sekelompok karyawan jika mereka ternyata terbukti bisa menunjukkan hasil yang menguntungkan seperti :

  • Peningkatan produktivitas.
  • Penurunan biaya tenaga kerja per unit.
  • Perbaikan kualitas produk.
  • Serta pengurangan tingkat kerusakan produk yang dihasilkan.

Berapa besarnya? Tergantung kebijakan perusahaan Anda. Bisa 1% dari laba bersih Anda, bisa 0,5% bahkan bisa hingga 2,5% jika ternyata margin keuntungan perusahaan dagang Anda tinggi. Upah yang satu ini biasanya bisa membuat tim produksi akan semakin solid untuk saling bahu membahu meningkatkan produktifitas mereka.

Sekarang Anda sudah paham kan tentang apa yang dimaksud dengan upah intensif? Sayap harap sudah lah… Kalau belum berabe ntar. Well, kalau sudah, berhubung saya sudah bingung mau nulis apa plus ngantuk, penjelasan tentang 6 sistem upah yang berlaku di Indonesia ini saya sudahi saja.


Kalau Anda mau tanya tentang sistem upah perusahaan ini, silahkan tulis di kotak komentar. Jangan sekarang tapi ya, berat mata ini euy, wkwkwkkwkw…

(sumber gambar artikel teori upah tenaga kerja, definisi upah, jenis jenis upah : www.thinksales.co.za)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

One Comment

  1. imam

    March 7, 2016 at 16:55

    Terimakasih banyak atas penjelasannya.
    Sangat memberi masukan buat saya.

    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *