Ini Dia Salah Satu Konsep Kepemimpinan yang Sukses

By on November 8, 2015
Ini Dia Salah Satu Konsep Kepemimpinan yang Sukses

Masih membahas artikel tentang soft skill yang ada kaitannya dengan artikel sebelumnya tentang manajemen kepemimpinanyaitu konsep kepemimpinan yang sukses.

Ada banyak konsep kepemimpinan yang sukses. Tetapi dari sekian konsep kepemimpinan yang sukses, ada satu faktor yang paling krusial yang efeknya sangat mengena bagi usaha Anda.

Apa itu? BIJAK DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN. Masih ada hubungannya dengan artikel sebelumnya kan? Ya, masih ada… Dan bijak dalam mengambil keputusan adalah hal penting yang harus Anda kuasai.

Apa efeknya jika hal ini tidak segera Anda kuasai? Taruhannya adalah masa depan usaha Anda. Apapun jenis usaha Anda dan sekecil apapun bisnis Anda, tetap saja Anda harus mengambil keputusan kan?

Makanya di atas saya mengatakan kepada Anda bahwa bijak dalam mengambil keputusan adalah soft skill yang harus segera Anda kuasai. Karena bijak dalam mengambil keputusan adalah bagian terpenting dari konsep kepemimpinan yang sukses.

Terus masalahnya adalah bagaimana sih caranya bijak dalam mengambil keputusan? Kalau cuman disuruh bijak dalam mengambil keputusan sih, semua orang juga bisa. Tapi bijak yang seperti apa yang termasuk dalam konsep kepemimpinan yang sukses.

Sebuah pertanyaan yang bagus… dan untuk itulah artikel kepemimpinan yang baik ini saya tulis. Bijak dalam mengambil keputusan yang baik harus bisa memenuhi dua syarat yang saya sebutkan berikut ini : RASIONAL dan MENGAKOMODIR KEINGINAN SEBUAH TIM.

Kelihatannya gampang ya? Siapa bilang !! Berpikir rasional dan mengakomodir sebuah tim adalah dua hal yang SALING BERTOLAK BELAKANG. Mau tahu contohnya? Nggak usah jauh-jauh, dari pengalaman pribadi saya saja.

Saya, punya 2 partner bisnis yang luar biasa. Sebut saja A dan B. Mereka punya kelebihan sekaligus kekurangan yang “spesifik”. Partner saya yang A, punya daya analisis pasar yang luar biasa. Selain itu, perhitungannya terhadap uang yang harus dikeluarkan perusahaan selain urusannya dengan marketing sangat ketat.

Partner saya yang B, dia sangat teliti, rajin, perfeksionis dan punya disiplin yang tinggi. Ia selalu menginginkan segalanya berjalan dengan “indah, lengkap dan sempurna”. Nah, pada suatu waktu, kami melakukan evaluasi bisnis.

Hasil dari evaluasi tersebut adalah perusahaan berencana untuk menambah biaya iklan pemasaran sekaligus menambah perlengkapan showroom. Terjadi pertentangan di rapat tersebut. Si A, ia bersikeras tidak perlu menambah perlengkapan showroom. Ia beralasan bahwa hal tersebut hanya menambah biaya dan mengurangi budget pemasaran.

Si B mengatakan hal yang berbeda. Perlengkapan showroom yang ia butuhkan adalah syarat standar yang harus dipunyai sebuah showroom agar karyawan bisa bekerja dengan maksimal. Terjadi tarik menarik kepentingan di sana.

Hanya saja, kedua orang ini punya kelemahan. Si A, adalah seorang yang rasionalistis sehingga ia jarang sekali memperhatikan keinginan orang lain. Isi otaknya cuman langkah yang rasional. Dan kebetulan, ia termasuk orang yang jarang ngerti perasaan orang lain. Kalau orang Jawa bilang ra nduwe tepo seliro… Nggak punya perasaan.


Si B, punya kelemahan yang berbeda. Ia orang yang terlalu perfeksionis sehingga biaya perusahaan kadang membengkak karena ide-ide beliau. So, apa yang saya lakukan? Sebagai seorang pimpinan usaha, saya mengambil keputusan dengan memperhatikan dua hal di atas… Rasional dan mengakomodir keinginan anggota tim !!

Saya tetap mempertahankan pendapat si A dengan menambah budget pemasaran karena saya tahu bahwa penjualan adalah nadi dari sebuah bisnis. Dan secara rasional, dengan menambah budget pemasaran, penjualan akan meningkat dan kami bisa mengembalikan uang investor secepatnya.

Di sisi lain, saya tetap menambah perlengkapan showroom untuk mengakomodir keinginan si B tetapi dengan cara bertahap… yaitu menyisihkan sebagian keuntungan di tiap bulannya untuk membeli semua kebutuhan si B dengan nilai yang rasional.

Kenapa saya tetap mengakomodir keinginan si B walaupun sebenarnya hal tersebut bisa saya tunda? Anda masih ingat kan dengan karakter si B yang sudah saya sebutkan di atas? Teliti, disiplin tinggi dan rajin… itulah karakter beliau.

Nah, dengan karakter si B ini, semua kelancaran aktifitas bisnis saya bisa berjalan dengan sangat sempurna. Stok gudang selalu tepat, keuangan selalu tepat, karyawan selalu terawasi kinerjanya, penggajian selalu tepat waktu hingga S.O.P yang selalu terjaga kinerjanya.

Jadi dengan kata lain, kelancaran aktifitas usaha saya sangat bergantung dengan beliau. So, apa jadinya jika ternyata beliau nanti “mutung” alias ngambek gara-gara keinginannya tidak terpenuhi? Siapa yang akan menjalankan roda aktifitas perusahaan saya? Meskipun saya tahu bahwa penjualan adalah nadi dari sebuah bisnis, tanpa jalannya roda aktifitas perusahaan yang lancar, sama saja bohong.

Anda tahu apa yang saya katakan kepada si A terkait keinginan si B? Ini ucapan saya :

“He mbul… ane ngerti bahwa menambah budget pemasaran adalah hal paling rasional yang harus dilakukan saat ini. Cuman masalahnya, nambah perlengkapan showroom itu juga penting. Pentingnya dimana ngerti kagak?”

“Pentingnya adalah buat njaga semangat si B. Gimana nanti kalau si B ngambek terus angin-anginan waktu mau nyetok gudang? Mau ente nggantiin? Gimana ntar kalo stok gudang nya berantakan, Lagian yang dibeli cuman meja kasir sama rak buat majang produk.”

“Itu kan hal yang bisa menambah keyakinan customer buat beli di toko kita. Kecuali kalau yang dibeli mobil BMW modif yang diparkir di depan ruko biar usaha kita kelihatan sukses di mata konsumen, baru ente boleh protes !!”…

Well, intinya adalah jika Anda menginginkan sebuah konsep kepemimpinan yang sukses, apapun tipe kepemimpinan yang Anda anut, selalu perhatikan 2 hal di atas… RASIONAL dan MENGAKOMODIR KEINGINAN SEBUAH TIM. Meskipun keinginan yang Anda akomodir tersebut hanyalah keinginan karyawan perusahaan Anda.


Selama keinginan tersebut masih rasional dan bermanfaat bagi bisnis Anda, why not? Anda nggak ingin kan usaha Anda babak bundas alias hancur lebur gara-gara ditinggal pergi karyawan atau partner bisnis Anda yang berbakat? Jika tidak, camkan konsep kepemimpinan yang sukses di atas…

(sumber gambar artikel tentang kepemimpinan, teori kepemimpinan menurut para ahli, kepemimpinan yang efektif, gaya kepemimpinan demokratis : knowledgequest.aasl.org)

Artikel Sebelumnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

3 Comments

  1. yuni cahyanti

    November 8, 2015 at 11:15

    amazing

  2. Puji

    November 24, 2015 at 14:56

    Konsep ini harus dapat dikuasai oleh siapapun yang ingin menjadi pemimpin yang baik … artikel yang bagus

  3. berlin

    June 4, 2016 at 02:25

    Super sekali..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *