3 Jenis Teori Upah Tenaga Kerja yang Wajib Anda Tahu


By on November 10, 2015
3 Jenis Teori Upah Tenaga Kerja yang Wajib Anda Tahu

Mumpung saya baru sering-seringnya cari karyawan baru, gimana kalau saya sharing-kan teori upah tenaga kerja buat Anda? Pas kan momennya?

Kan biasanya pada bingung kalau mau nentuin berapa gaji yang pas buat calon karyawan baru? Ho oh tho? Kayak saya kemaren waktu pengen punya office boy… 

Piye, arep dibayar piro yo? Gimana, mau dibayar berapa ya? Sakmene ae rek… duite sing ra cukup nak kakehan !! Segini aja coy… uangnya yang nggak cukup kalau kebanyakan !!

Anda juga pernah mengalaminya kan? Belum? Wah… kebangetan Anda. Masak proses yang satu ini Anda belum pernah mengalaminya? Jangan-jangan Anda nggak pernah cari karyawan ya? Semua Anda kerjain sendiri? Payah lah kalau begitu…

Jangan lah… cari karyawan yang bisa membantu Anda. Capek ntar. Kapan pasif income-nya kalau semuanya Anda kerjakan sendiri, okay? Baiklah, sekarang saya jelaskan seperti apa teori dan sistem penggajian dan pengupahan tersebut. Selama ini, ada 3 teori upah tenaga kerja menurut para ahli yang bisa Anda adopsi. Mereka menyebutnya “Teori Upah Ekonomi”… Apa saja ketiga teori tersebut?

Teori Pembentukan Upah Tenaga Kerja yang Pertama : Teori Pasar

Konsep dari teori pembentukan upah pada tenaga kerja yang satu ini ditentukan atas hasil dari proses perundingan antara karyawan sebagai penjual jasa tenaga dengan manajemen perusahaan sebagai pembeli jasa tersebut.

Jadi tingkat upah yang akan diterima oleh calon karyawan ditentukan oleh “kekuatan” penawaran dan permintaan dari si tenaga kerja tersebut. Sayangnya, dalam teori upah tenaga kerja yang pertama ini, karyawan atau buruh diberlakukan sebagai barang.

Contohnya nih, Anda butuh karyawan adkeu. Si karyawan meminta gaji bulanan kepada Anda sebesar Rp. 2.000.000,-. Budget Anda ternyata hanya Rp. 1.750.000,- per bulan. Setelah terjadi tawar-menawar antara Anda dengan calon karyawan tersebut, disepakati gaji si karyawan adalah Rp. 1.850.000,-. Di sini Anda menerapkan penentuan upah dengan menggunakan teori pasar.

Teori Pembentukan Upah Tenaga Kerja yang Kedua : Teori Standar Hidup

Teori ini mengharuskan Anda untuk memberikan jaminan kepada buruh untuk bisa menikmati hidup dengan layak. (*kek-nya agak berat ya? Gimana kalau buruhnya pengen motor Kawasak* N*nja 250 cc sebagai acuan hidup yang layak, wkwkkwkwkkw…).

Anda sebagai pengusaha harus memberikan “servis” yang layak kepada si karyawan dengan hal-hal yang “aduhai” bagi mereka seperti jaminan hari tua, pendidikan atau hiburan. Tetapi konsekuensinya, si karyawan harus punya skill yang dahsyat punya.

Bukan cuman keahlian yang maaf, ecek-ecek. Biasanya yang mampu menerapkan teori pengupahan seperti ini adalah perusahaan-perusahaan besar macam Freep*rt, Pertam*na dan sebagainya. Nah, pertanyaanya sekarang adalah bagaimana cara menentukannya? Ya dengan dihitung tiap item-nya. Misalkan nih, Anda punya pabrik deterjen yang omsetnya sudah ratusan juta per bulan.

Ternyata di usaha Anda tersebut Anda diharuskan punya lulusan teknik kimia setingkat S1 yang bisa meracik komposisi deterjen dengan kualitas yang sempurna. Tinggal Anda hitung saja item kelayakan hidupnya.

  • Gaji Pokok : Rp. 2.200.000,-
  • Tunjangan Jabatan : Rp. 200.000,-
  • Uang Makan : Rp. 390.000,- (*anggap sehari Rp. 15.000,- kali 26 hari)
  • Transport : Rp. 260.000,- (*anggap sehari Rp. 10.000,- kali 26 hari)
  • Komunikasi (Uang Pulsa) : Rp. 100.000,-
  • Pendidikan : Rp. 500.000,-
  • Hiburan : Rp. 300.000,-

Berapa kira-kira gaji yang harus Anda berikan kepada si sarjana teknik kimia tadi? Rp. 3.950.000,-… benar kan? Nah, ini yang dinamakan teori penggajian dan pengupahan model teori standar hidup.

Teori Pembentukan Upah Tenaga Kerja yang Ketiga : Teori Kemampuan Untuk Membayar

Kalau Anda menggunakan teori upah ketenagakerjaan ini, Anda harus melihat kemampuan dari usaha Anda. Besar kecilnya upah dipengaruhi oleh laba yang diterima oleh perusahaan Anda. Apabila bisnis Anda sedang mendapatkan laba atau keuntungan yang besar, karyawan Anda harus menerima tambahan upah dari keuntungan tersebut.

Nggak susah kan? Contohnya seperti ini, Anda punya karyawan 4 orang : 1 orang store manager, 1 orang marketing, 1 orang adkeu dan 1 orang office boy. Setiap kenaikan laba bersih perusahaan sebesar 50 juta rupiah, Anda menyisihkan 5% sebagai tambahan upah karyawan Anda. Besarnya adalah : Rp. 50.000.000,- x 5% = Rp. 2.500.000,-

  • Gaji Store Manajer : Rp. 3.500.000,-
  • Gaji Marketing : Rp. 2.500.000,-
  • Gaji Adkeu : Rp. 1.750.000,-
  • Gaji Office Boy : Rp. 1.250.000,-

Kemudian Anda menentukan bahwa dari 5% nya tadi, masing-masing karyawan Anda memperoleh :

  • Store Manajer : 40%
  • Marketing : 30%
  • Adkeu : 20%
  • Office Boy : 10%

Nah, perhitungan akhir gaji mereka saat laba bersih perusahaan Anda meningkat menjadi 50 juta rupiah adalah :

  • Total Gaji Store Manajer : Rp. 3.500.000,- + (40% x Rp. 2.500.000,-) = Rp. 4.500.000,-
  • Total Gaji Marketing : Rp. 2.500.000,- + (30% x Rp. 2.500.000,-) = Rp. 3.250.000,-
  • Total Gaji Adkeu : Rp. 1.750.000,- + (20% x Rp. 2.500.000,-) = Rp. 2.250.000,-
  • Total Gaji Office Boy : Rp. 1.250.000,- + (10% x Rp. 2.500.000,-) = Rp. 1.500.000,-

Is that clear se-hitam shampoo Cle*r? Sudah jelas kan penjelasan tentang teori pengupahan buruh di atas? So, dari macam macam teori upah tenaga kerja di atas, silahkan pakai mana yang paling sesuai dengan bisnis Anda. Prinsipnya adalah upah yang Anda berikan kepada karyawan Anda harus “win-win solution“.

Anda jangan terlalu “medit” alias pelit kepada karyawan, tetapi juga jangan terlalu boros. Sebab jika Anda terlalu pelit, karyawan Anda akan lari semua. Dan jika terlalu besar, perusahaan Anda bisa “kukut” ntar. 

Anda belum pernah mengalami ditinggal karyawan yang handal gara-gara gaji mereka terlalu kecil kan? Sedih bro… Nyesek di hati. Cari gantinya susah banget, ha..ha..ha.. “Wokeh dok, ane sekarang paham. Tetapi kalau boleh tahu nih, dokter pakai metode yang mana?”.

Saya? Pakai metode yang mana? Hmmm… pertanyaan yang sulit. Ini rahasia dapur perusahaan masalahnya. Tetapi demi Anda, saya akan jawab. Saya pakai teori upah tenaga kerja yang ketiga. Jadi di saat penjualan saya standar, saya bayar sesuai dengan gaji standar mereka. Tetapi saat penjualan saya naik, saya tambahin gaji mereka… enak kan?

(sumber gambar artikel 3 teori pengupahan, teori sistem pengupahan, teori tentang pengupahan : www.centonomy.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *