Sabet Peluang Bisnis Makanan dari Usaha Catering Pernikahan


By on November 14, 2015
Sabet Peluang Bisnis Makanan dari Usaha Catering Pernikahan

Kota Jakarta adalah kota yang punya banyak peluang bisnis. Salah satunya adalah peluang bisnis makanan dari usaha catering pernikahan.

Dan peluang bisnis makanan yang satu ini sukses diambil oleh seorang ibu muda yang tinggal di kota Jakarta bernama Asmara Dewi. 

Asmara Dewi memulai usaha catering pernikahan pada tahun 2013. Hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun, peluang bisnis makanan yang tadinya ia jalankan hanya dengan modal pas-pasan berubah menjadi sebuah bisnis catering pernikahan dengan keuntungan yang besar.

Semua itu berkat kiat-kiat pemasaran yang dilakukan oleh Asmara Dewi, (tentunya dengan ijin Allah SWT), hal yang sangat jarang dilakukan oleh pengusaha baru khususnya ibu muda. Awal mula kisahnya dimulai pada pertengahan tahun 2012 dimana Asmara, panggilan akrab beliau, terpaksa harus resign dari pekerjaannya karena kehamilannya bermasalah. 

Ia harus bed rest dan keadaan ini membuat dirinya memutuskan untuk tidak bekerja. Namun begitu si kecil berusia 8 bulan, Asmara mulai merasa bosan. Ia butuh aktivitas baru yang bisa mengusir rasa bosannya. Apalagi dulunya ia sudah terbiasa bekerja dari pagi hingga sore. 

Tetapi dengan statusnya sebagai ibu beranak satu ditambah dengan usianya yang sudah tidak bisa lagi dibilang muda, rasa-rasanya kok tidak mudah baginya untuk kembali lagi bekerja kantoran. Akhirnya muncul ide untuk menekuni peluang bisnis makanan di bidang usaha katering pernikahan.

Ide usaha catering pernikahan ini ia dapatkan setelah secara kebetulan, Asmara bertemu dengan sepupunya yang bernama Edwin yang berprofesi sebagai seorang juru masak. Dan waktu itu Edwin juga baru saja berhenti dari pekerjaannya dikarenakan restoran tempat dimana ia bekerja bangkrut.

Obrolan mereka berlanjut hingga akhirnya Asmara memberanikan diri untuk mencoba mengambil peluang bisnis makanan khusus di bidang usaha catering pernikahan. Modal yang ia keluarkan pertama kali besarnya berkisar 20 juta rupiah. Saran dan support dari sepupunya ternyata mampu “menggugah” hatinya untuk terjun di usaha catering pernikahan.

Edwin juga menyarankannya untuk memulai bisnis katering pernikahan ini dari modal yang ada dulu. Jika nantinya terlihat ada peningkatan, barulah perlahan demi perlahan modal usahanya ditambah. Ternyata usul Edwin sangat tepat. Di awal-awal bisnis katering pernikahan ini berjalan, pesanan yang diterima oleh Asmara sangat terbatas.

Bisnis katering pesta pernikahan miliknya hanya bisa mendapatkan order antara 5-10 “hajatan” di tiap bulannya. Sisa omset yang ia hasilkan ia dapati dengan cara melayani even-even kecil yang memesan nasi kotak darinya dengan jumlah tidak lebih dari 300 porsi. Itupun ia dapatkan dari rekan dan kenalannya sendiri.

Melihat penjualan usahanya yang tidak mengalami peningkatan yang cukup signifikan, Asmara sadar bahwa ia harus merancang sebuah strategi marketing yang bisa mengangkat omsetnya. Langkah pertama yang Asmara lakukan adalah mencetak liflet kecil yang ia sebarkan melalui agen koran.

Setiap koran yang terjual, Asmara meminta agen tersebut untuk menyelipkan selembar liflet yang berisi promosi peluang bisnis makanannya. Ia berani membayar agen terserbut 30 ribu rupiah per hari. Dengan demikian, dalam sebulan, ia sudah mengeluarkan lebih dari 1 juta rupiah untuk membayar jasa agen tersebut serta mencetak liflet promosinya.

Sebuah keberanian yang jarang dilakukan oleh pebisnis pemula, terlebih lagi dia adalah seorang ibu muda yang belum punya pengalaman dan keahlian dalam berbisnis. Tidak hanya itu. Asmara juga menjalin kerjasama dengan beberapa wedding dan event organizer untuk memasarkan usaha catering pernikahan miliknya.

Ia juga menjadikan beberapa kerabatnya menjadi freelance marketing bagi usahanya. Dan terbukti kedua ide ini mampu meningkatkan omset “Asmara Catering” -nama usaha catering beliau- signifikan. Satu bulan pertama dari 3 bulan target Asmara menerapkan taktik pemasaran ini, “Asmara Catering” sudah bisa mendapatkan omset hingga di atas 200 juta rupiah !!

Peningkatan ini membuat Asmara dan Edwin mulai melihat bahwa ada potensi yang besar dari peluang bisnis makanan yang mereka bangun. Akhirnya mereka sepakat untuk menambah kapasitas produksi dan meluaskan jangkauan pelayanan demi melebarkan sayap usahanya.

Dan disinilah letak kehebatan Asmara. Semakin besar bisnisnya, semakin banyak ide-ide marketing darinya. Langkah apa yang selanjutnya ia lakukan? Asmara memberikan bonus honeymoon untuk menginap selama 2-4 hari di dua cottage ternama di Jakarta jika ada konsumen yang menyewa jasanya. Satu di Anyer dan satu lagi di Puncak Pass. Ide ini ia adopsi dari usaha katering pernikahan milik seniornya. 

Seperti biasa, ide marketing sukses meledakan omset usaha catering pernikahan Asmara dan Edwin. Dengan menerapkan ide ini, omset “Asmara Catering” bisa mencapai 400 juta rupiah. Bahkan jika di musim pernikahan, mereka bisa mempunyai omset hingga 600 juta rupiah.

Bayangkan jika mereka punya keuntungan bersih 20% nya saja… 80 juta rupiah bersih keuntungan yang bisa mereka kantongi dalam sebulan !! Belum lagi jalinan kerjasama “Asmara Catering” dengan sebuah perusahaan PMA untuk menyuplai makan siang karyawan mereka sebanyak 250 porsi per hari… Fantastis !!

Dengan perkembangan bisnis yang sangat luar biasa ini, kini Asmara sudah mempunyai bangunan sendiri yang ia khususkan sebagai rumah produksi sekaligus mess bagi karyawannya yang jumlahnya sudah mencapai 38 orang. Ia juga sudah memiliki 3 mobil niaga yang ia gunakan sebagai pengangkut bagi masakan dan alat kateringnya.

Oh iya… Anda tahu bagaimana sebenarnya hubungan bisnis antara Asmara dan Edwin? Ternyata ia punya sistem kerjasama bisnis yang cukup cerdik. Asmara sepenuhnya menyerahkan pengelolaan urusan dapur dan masakan oleh Edwin dengan imbalan berupa gaji dan share keuntungan sebesar 10%. Sedangkan untuk urusan manajemen dan pemasaran, semuanya ia yang urus.

Menurut Asmara, dengan sistem kerjasama bisnis seperti ini, beban kinerja perusahaan bisa semakin ringan dan berjalan sangat efektif… Okay, setelah Anda mengetahui perjalanan dan cara memulai usaha catering pernikahan, sekarang saatnya untuk melihat seperti apa asumsi keuntungannya dan berapa modal usaha catering pernikahan yang dibutuhkan per sekali order.

MODAL AWAL 

  • Peralatan Rp. 20.000.000,-

ASUMSI PENJUALAN 

  • Harga paket eksklusif katering pernikahan : Rp. 40.000.000,-

BIAYA PRODUKSI :

  • Bahan baku : Rp. 22.000.000,-
  • Bahan bakar, air dan listrik : Rp. 1.500.000,-
  • Transportasi : Rp. 1.500.000,-
  • 3 orang tenaga masak @Rp. 400.000,- : Rp. 1.200.000,-
  • 7 orang tenaga kasar (untuk angkat-angkat, cuci piring dsb) @Rp. 150.000.- : Rp. 1.050.000,-
  • Total Biaya Produksi : Rp. 28.250.000,-

BIAYA ADMINISTRASI & PEMASARAN 

  • Cetak liflet : Rp. 500.000,-
  • Jasa agen : Rp. 30.000,- x 30 hari = Rp. 900.000,-
  • Komisi sales freelance : 5% x harga jual = Rp. 2.000.000,-
  • Sewa hotel 4 hari @Rp. 350.000,- untuk bonus honey moon : Rp. 1.400.000,-
  • Total biaya pemasaran : Rp. 4.800.000,-

KEUNTUNGAN BERSIH

  • (Penjualan – Biaya Produksi – Biaya Pemasaran) = Rp. 6.950.000,-

Well, dengan membaca peluang bisnis makanan di atas, apakah Anda terinspirasi oleh usaha catering pernikahan yang beliau jalani? Atau jangan-jangan Anda malah terinspirasi strategi pemasarannya? “Tidak dok… saya tidak terinspirasi salah satunya. Tetapi saya terinspirasi dua duanya, wkwkwkwkwk…”. Wokeh kalau begitu, segera jalankan. Siapa tahu Anda bisa menyusul ibu Asmara menjadi pengusaha sukses di usaha catering pernikahan…

(sumber gambar artikel peluang bisnis makanan : tukarcincin.com)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *