Konsep Bisnis yang Efektif ? Fokus dan Tahu Kapan Harus Berhenti !!

By on November 18, 2015
Konsep Bisnis yang Efektif ? Fokus dan Tahu Kapan Harus Berhenti !!

Dari judulnya sudah kelihatan kalau konsep bisnis yang efektif adalah fokus dan tahu kapan harus berhenti. Ya memang itu jawabannya… fokus, kemudian tahu kapan harus berhenti.

Hanya saja saya perlu menjelaskan seperti apa itu “fokus” dan apa maksud dari kalimat “tahu kapan harus berhenti”.

Saya mulai dari mana ya biar enak? Oh ya… saya mulai dari kisah teman-teman lingkungan saya aja. Supaya Anda bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

Hanya saja kisah tersebut saya bagi menjadi 2 sub bahasan. Tujuannya supaya Anda bisa benar-benar paham. Fokus, itu kata yang familiar dan mudah diucapkan tetapi susah dilakukan. Sedangkan “tahu kapan harus berhenti”, ini membutuhkan pembahasan tersendiri.

Konsep Bisnis yang Efektif Pertama : FOKUS !!

Alkisah, saya punya beberapa teman-teman bisnis yang luar biasa. Mereka ulet, cekatan dan cerdas. Apa yang mereka ketahui adalah hasil dari kecepatan mereka dalam menangkap sesuatu yang baru. Hanya saja, mereka punya satu problem serius yang tidak terpecahkan… FOKUS !!

Yang satu, terjangkit penyakit BADD… semua peluang bisnis yang datang menghapirinya, ia ambil. Prinsip utamanya hanya satu, “Peluang itu tidak datang dua kali. Ambil sekarang juga atau hilang !!”. Yang satunya, gonta-ganti bisnis nggak ada habis-habisnya.

Eh, Anda tahu kan apa itu BADD? Sepertinya saya tidak perlu menceritakan apa itu BADD, benar kan? Karena bagi Anda yang sering baca artikel saya pasti tahu apa itu BADD… “penyakit ganas” sekelas kanker yang menjangkiti hampir kebanyakan pebisnis.

“Tapi om, saya baru pertama datang ke blog Anda. Saya nggak ngerti BADD itu apa?”… Wokeh, kalau begitu, yang belum tahu apa itu BADD, klik link iniBalik lagi ke teman saya tadi, baik keduanya, sama-sama tidak bisa fokus.

Yang BADD, bisnisnya harus berakhir dengan kepailitan. Semua tenaga dan pikirannya tidak mampu untuk “menahan” banyaknya problem yang harus ia pecahkan dalam waktu yang bersamaan… dari ketujuh bisnisnya !!

Yang gonta-ganti bisnis, sama saja… ia tidak dapat menahan keinginannya untuk berganti-ganti bisnis karena satu… tertarik dengan setiap peluang yang datang. Kedua… selalu berhenti jika menemui kendala yang sepertinya “terlihat” benar-benar akan menghambat bisnisnya.

So, keduanya mengalami hal yang sama… GAGAL FOKUS. Well, apa sebenarnya fokus itu? Kalau Anda tanya apa itu fokus, saya tidak dapat mendefinisikannya dengan pasti. Tetapi saya punya analogi sendiri terkait dengan kata fokus tersebut.

Yang pertama, fokus… itu seperti Anda berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain kemudian Anda ditanya… berapa mobil kijang lama yang Anda temui hari ini. Jika Anda tidak fokus, Anda tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. “Berapa ya? Kayaknya nggak ada deh mobil kijang lama. Adanya cuman Avanz* thok.”

Itu kalau Anda tidak fokus… Tetapi kalau Anda fokus, pasti Anda bisa hitung berapa mobil kijang lama yang Anda temui selama perjalanan. “Woh itu satu… dua… tiga… ada lagi tuh… empat…”, dan seterusnya. Itu baru namanya fokus. Anda tidak percaya? Cobalah !!

Yang kedua, fokus itu seperti apa yang dikatakan seorang legenda bela diri… Bruce Lee. Apa yang ia katakan?

Saya tidak takut dengan orang yang menguasai 10.000 jurus tetapi hanya ia latih satu kali. Saya lebih takut dengan orang yang mempunyai 1 jurus tetapi ia latih selama 10.000 kali.

Dahsyat bukan? Anda akan lebih mungkin berhasil jika menekuni satu bisnis terlebih dahulu dengan MELEWATI rintangan-rintangan yang menghadang dari pada berganti-ganti bisnis terlalu cepat karena MENGHINDARI rintangan. Anda juga lebih mungkin sukses dengan satu model bisnis tertentu daripada menjalankan lebih dari satu bisnis secara bersamaan.

Mau contoh? Tidak usah yang jauh-jauh, teman saya yang saya sebutkan tadi. Beliau adalah seorang yang cerdas dalam memahami apapun jenis dan model bisnis online. Pintar, cepat dan cekatan. Sayangnya, begitu ia mendengar ada  cerita sukses tentang seseorang yang menekuni sebuah bisnis online yang berbeda dengan dirinya, ia langsung memutuskan untuk mempelajarinya.

Dan akhirnya bisa ditebak… beliau berhenti dari bisnis yang sudah dijalaninya dan mulai menjalankan bisnis barunya. Kemudian keadaannya bertambah rumit setelah beberapa bulan kemudian ia menemui berbagai macam kendala. Well, akhirnya dengan penuh “pertimbangan” dan “analisa” yang mendalam, beliau memutuskan untuk BERHENTI dari bisnis tersebut.

Begitu seterusnya berulang-ulang hingga tak terasa waktu sudah banyak berlalu. Anda tahu apa yang terjadi dengan beliau sekarang? Tiga tahun yang lalu kami sama-sama memutuskan untuk menekuni bisnis pilihan masing-masing. 

Sekarang, beliau masih saja berganti-ganti bisnis, saya sudah menghasilkan aset hingga hampir setengah milyard dari bisnis yang saya tekuni !! Itulah kekuatan FOKUS !!


Konsep Bisnis yang Efektif Kedua : TAHU KAPAN HARUS BERHENTI !!

Konsep bisnis yang baik yanng kedua ini prakteknya gampang-gampang susah. Ia seolah-olah seperti lawan dari konsep bisnis yang efektif pertama, fokus… Lalu bagaimana prakteknya? Begini… misal Anda tertarik untuk menekuni industri makanan kecil. Kemudian Anda sudah menentukan untuk menerapkan konsep bisnis yang pertama di atas, yaitu fokus di usaha pilihan Anda selama 3 tahun.

Well, tentunya dalam perjalanan bisnis Anda, halangan dan rintangan akan datang silih berganti. Nah, terkadang, ada halangan tertentu yang membuat Anda tidak bisa melanjutkan bisnis Anda untuk sementara waktu. Di sinilah konsep bisnis yang efektif kedua berlaku… “Tahu Kapan Harus Berhenti”.

Biar Anda lebih “dong”, saya kutipkan nasihat om Kiyosaki tentang “Tahu Kapan Harus Berhenti” :

Anda tidak bisa menambal ban mobil Anda yang Bocor pada waktu mobil Anda berjalan.

Cermati kata-kata di atas. Anda harus memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur “nafas” Anda, membenahi mana dari segitiga B-I Anda yang lemah dan bersiap untuk membangunnya lagi… Layaknya Anda berhenti untuk menambal ban mobil Anda yang bocor kemudian kembali meneruskan perjalanan Anda. Anda harus berhenti dulu, benar kan?

Apa yang terjadi pada teman saya yang menderita penyakit BADD di atas adalah konsekuensi dari ketidaktahuan dia akan konsep bisnis yang efektif ini. Ia mempunyai banyak usaha, sayangnya ia lemah di mayoritas di berbagai komponen bisnis yang sukses. Manajemennya berantakan. Keuangannya? Tambal sulam. Pemasarannya? Kalau ia tidak “turun gunung” melakukannya sendiri, omsetnya jeblok.

Ali-alih memperbaiki itu semua, dia justru menambah lini bisnisnya. Dan terjadilah apa yang terjadi. Semua bisnisnya hancur. Seharusnya jika dia paham konsep bisnis yang efektif kedua ini, sudah dari dulu ia berhenti. Ironinya, saat ia bertanya kepada saya dari ke-5 bisnisnya, mana yang harus dihentikan, ia tidak benar-benar sedang bertanya kepada saya.

Ketakutan akan kehilangan salah satu bisnisnya membuat ia tidak bisa dan tidak mau berhenti. Akhirnya ia justru kehilangan semua bisnisnya. Mengenaskan bukan? Tetapi masalahnya, menerapkan konsep bisnis “Tahu Kapan Harus Berhenti” itu seperti menerima keputusan bahwa ada bagian dari tubuh Anda yang harus diamputasi.

Jika dibiarkan, akan merembet ke bagian lain. Jika diamputasi, Anda kehilangan salah satu anggota badan Anda. Keputusan yang berat !! Tetapi bagi saya, di dalam sebuah bisnis, saya lebih suka “mengamputasi” salah satu “anggota badan bisnis” saya daripada saya harus mengorbankan kehilangan seluruh bagian dari bisnis saya.

So, konsep bisnis yang efektif, “Tahu Kapan Harus Berhenti” itu terbagi pada 3 posisi:


  1. Berhenti saat bisnis Anda tidak berjalan dengan semestinya.
    Pada posisi ini, Anda berhenti sejenak untuk memperbaiki apa yang salah yang kemudian Anda lanjutkan kembali membangun bisnis Anda. Bisa dengan “mematikan full” seluruh operasional Anda untuk memperbaiki “lobang-lobang” yang ada di bisnis Anda. Atau Anda hanya cukup memberhentikan sebagian dari operasional bisnis Anda. Semua tergantung dari seberapa akutnya “lobang” yang ada di bisnis Anda.
  2. Berhenti saat bisnis Anda memang tidak bisa dilanjutkan.
    Ada kalanya sebuah bisnis memang benar-benar tidak bisa dilanjutkan, meskipun target waktu yang Anda tentukan belum terpenuhi. Salah satu contohnya adalah bisnis-bisnis yang termasuk dalam kategori “monkey bisnis” seperti bisnis batu akik, bisnis lobster air tawar, bisnis tanaman gelombang cinta dan sebagainya. Anda harus tinggalkan karena trend bisnis tersebut sudah turun drastis. Atau Anda sudah berjuang hingga titik darah penghabisan sampai batas waktu yang sudah Anda tentukan, tetapi ternyata bisnis Anda tidak menunjukkan tanda-tanda “kebaikan”. Anda juga harus berhenti dan meninggalkannya.
  3. Berhenti pada saat Anda sudah waktunya berhenti.
    Tujuan bisnis adalah pasif income. Anda tidak bisa selamanya di bisnis. Untuk itu Anda butuh “exit strategy” yang tepat atau sistem yang kuat. Selain itu usia tidak bisa memungkiri bahwa semakin Anda tua, semakin Anda lemah. Dan ini membuat Anda harus mundur dari semua aktifitas bisnis Anda. Apa bedanya Anda menjadi seorang pekerja dengan menjadi seorang pengusaha jika Anda tidak tahu kapan Anda harus berhenti? Maka dari itu, siapkan sistem yang kuat atau pilihan “exit strategy” yang tepat sehingga Anda bisa berhenti tanpa harus merasa takut kehilangan pendapatan.

Saya rasa saya sudah menceritakan secara panjang lebar tentang konsep bisnis yang bagus ini di atas. Saran saya, pahami apa yang saya tulis di atas dan mulailah menerapkan kedua konsep bisnis yang efektif ini secara kontinyu. Ingat, FOKUS dan TAHUN KAPAN HARUS BERHENTI adalah 2 hal yang akan terus selalu menyertai perjalanan bisnis Anda jika Anda ingin sukses.  

(sumber gambar artikel konsep bisnis yang diterapkan dalam dunia usaha, deskripsi konsep bisnis yang akan dibangun : dwbassociates.com)

Artikel Sebelumnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

2 Comments

  1. Afrid Fransisco

    July 2, 2016 at 20:47

    ternyata kalau ngga bagus mending bisnis dihentikan aja ya. hem.., saran yg bagus ketimbang terus di lanjutkan

  2. Prizky Pebrianto

    November 4, 2016 at 20:15

    article terbaik,, hampir kayak saya,, tapi saya sedang meriset dan fokus ke visitor,, hoho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *