Usaha Kantin Sekolah? Kenapa Nggak Sekalian Buka Bisnis Foodcourt di Mall?


By on November 18, 2015
Usaha Kantin Sekolah? Kenapa Nggak Sekalian Bisnis Foodcourt di Mall?

Judulnya agak kontroversional ya? Wong pengennya buka usaha kantin sekolah, malah ditawari bisnis foodcourt di mall. Maksudnya apa je om yang nulis ini?

Tenang mas bro dan mbak sis… Ane tidak bermaksud apa-apa. Ini cuman masalah kecil. Ceritanya begini. Saya punya data tentang bisnis foodcourt di mall, ketemu keywordnya usaha kantin sekolah.

Karena dua-duanya memiliki konsep bisnis yang sama, akhirnya judulnya saya buat sedemikian rupa. Jadi kalau Anda pengennya usaha kantin sekolah, tetep bisa baca artikel ini, kalau pengen bisnis foodcourt di mall, juga tetep bisa baca artikel ini.

Semuanya sama-sama punya keuntungan yang besar. Cuman kalau usaha kantin sekolah, sewa tempat usahanya murah, kalau bisnis foodcourt di mall, sewa tempat usahanya mahalan dikit, hua..ha..ha..ha..ha..

Tetapi walaupun bisnis foodcourt di mall sewanya mahal, Anda lebih punya peluang yang besar untuk menjalankannya. “Kok bisa om?” Lha di mall asal ada tempat yang kosong dan Anda mampu menyewanya, selesai sudah.

Lha kalau usaha kantin sekolah? Satu sekolah biasanya cuman menyediakan satu kantin doang. Anda harus “rebutan” dengan “ibu-ibu dasawisma penguasa sekolah” buat memenangkan “hak berdagang” di sekolah tersebut. Benar nggak kira-kira opini saya?

So, biar Anda tetap merasa nyaman membaca artikel usaha kantin sekolah dan bisnis foodcourt di mall ini, saya ambilkan satu contoh pengusaha yang sukses menjalankan bisnis kedua-duanya. Mantabs kan?

“Welah… kok ganas sekali bos !! Siapa pengusaha sukses yang bisa punya bisnis foodcourt di mall sekaligus usaha kantin sekolah? Namanya bu Susi Harti. Ia sudah menggeluti peluang usaha kantin sekolah dan peluang bisnis foodcourt ini lebih dari 25 tahun. Cukup lama kan?

Awalnya ia hanya coba-coba untuk mengirimkan proposal usaha kantin kampus di sekolah bidang public relation di bilangan Sudirman, Jakarta. Tak disangka proposal penawarannya di terima. Hingga akhirnya bu Susi Harti memilih bisnis kantin sekolahan dan peluang usaha food court ini sebagai bisnis utamanya.

Sekarang ia mempunyai 6 kantin di tempat-tempat strategis di kota Jakarta, termasuk di sekolah, kampus dan di pusat perbelanjaan seperti mall dan sejenisnya. “Woohh… mantab sekali ibu Susi Harti ini ya.” Bentar dulu… itu cerita senangnya, punya 6 usaha kantin sekolahan dan kantoran.

Awalnya juga ngenes mas bro !! Ibu Utik (panggilan akrab beliau) ini dulunya adalah penyuplai makan siang untuk karyawan di hotel dimana ia bekerja. Tetapi karena untungnya mepet plus tanggung jawabnya berat, ia memilih untuk meninggalkan usaha tersebut.

Dan karena bidang usaha sebelumnya di bisnis makanan, ia memilih usaha yang tidak jauh-jauh dari usaha sebelumnya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Bu Utik ditawari untuk membuka usaha kantin di sebuah kantor besar di Jakarta.

Beliau langsung memberanikan diri untuk mengambil peluang usaha kantin kantor tersebut. Alhasil usahanya sukses berjalan selama 5 tahun. Tetapi berita buruknya, usaha kantin di kantor tersebut harus berhenti setelah menginjak tahun ke-6. Ia dengan terpaksa menghentikan operasional usahanya karena hal yang lumrah atau sering terjadi… “penggusuran”.

“Pada waktu buka kantin di daerah MT. Haryono, usaha ini sebenarnya sangat berkembang. Namun akibat pergantian pimpinan pengelola kantin tersebut, kantin kami sering dipermasalahankan karena pimpinan tersebut ingin menggantikan pengelola kantin tersebut dengan saudaranya.”, kenang Bu Utik.

Akibat dari “pemberhentian” sepihak tersebut, bu Utik harus vakum beberapa tahun. Sampai akhirnya datang tawaran dari London School -yang saat itu berlokasi daerah Sudirman Park- untuk membuka bisnis kantin karyawan dan pelajar. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia berusaha untuk mengembangkan usaha kantin sekolah ini.

“Ketika pertama kali saya menerima di kampus London School itu, saya sudah membuat target dalam waktu 1 tahun kedepan, minimal saya harus bisa membuka 4 kantin lainnya.”, jelasnya. Hal ini beliau lakukan berjaga-jaga jika ada “pemutusan kontrak” sepihak serta untuk menopang hidup sehari-hari.

“Hmmmm… begitu ceritanya ya om. Sedih juga ya? Eh… ngomong-ngomong, kalau boleh tahu menu kantin bu Utik apa saja sih?”. Untuk menu kantin beliau, produk andalannya adalah burger, lontong cap gomeh, soto, gudeg, bubur ayam serta nasi rames. Sedangkan untuk menu minumannya, ibu Utik menawarkan aneka juice dan minuman instan seperti kopi, teh, kopi susu dan semisalnya.

Khusus untuk menu lontong cap gomeh dan gudeg, keduanya adalah menu andalan dari kantin bu Utik. Dan bisa dibilang jarang ada kantin yang menawarkan menu tersebut. “Kita ingin menampilkan sesuatu yang tidak dijual dengan kantin lain, sehingga kita memiliki perbedaan sendiri.”, kata bu Utik.

“Kemudian Jika ada yang ingin memasok makanan, biasanya kami test terlebih dahulu. Dan sistem pembayarannya pun tidak langsung cash, tapi berupa konsinyasi. Jika terjual baru dibayar.”, katanya. Hal itu dilakukan demi menjaga kualitas masakan. Karena menurut bu Utik, omset makanan kantin beliau selalu terjaga jika masakan yang dijual benar-benar enak.

“Wah… oke punya tuh strategi beliau. Terus kalau yang bisnis foodcourt di mall gimana ceritanya?”. Ya ampun… hampir saja saya lupa. Kata beliau begini… Prosedur dan persyaratan untuk mendirikan outlet minuman dan makanan di foodcourt itu tergantung dari peraturan masing-masing. Namun biasanya bisa dikelompokkan menjadi 2 jenis.

  1. Sistem yang pertama adalah pembayaran melalui pemotongan harga jual. Biasanya Anda dikenakan pemotongan 20% dari harga jual makanan Anda oleh pihak pengelola kantin. Dengan pemotongan tersebut Anda tidak perlu lagi memikirkan pembayaran sewa tempat kantin setiap bulannya kantin.
  2. Sistem kedua adalah pembayaran sewa per tahun atau per bulan. Kalau menurut pengalaman beliau, sewa tempat di foodcourt per tahun antara 10 – 20 juta rupiah. Tapi tergantung lokasinya juga lho… Sedangkan kalau per bulan rata-rata 500 ribu – hingga 1 juta rupiah.

Kalau tips membuka bisnis foodcourt di mall, Anda bisa membacanya di bawah ini…

  1. Sebaiknya Anda benar-benar memperhatikan lokasi foodcourt tersebut. Semakin ramai pengunjungnya, semakin bagus prospeknya, tetapi semakin mahal biaya sewanya. Maka untuk di awal, pilih mana yang sesuai dengan kantong Anda.
  2. Perhatikan jenis pengunjung di supermarket tersebut. Cari yang makanan dan minuman yang benar-benar mereka butuhkan, misalnya keripik kentang tornado. Tetapi di sebagian tempat yang padat dan penuh sesak, kadang es teh Jawa lebih mereka butuhkan daripada es dawet Jerman.
  3. Jika supermarket yang Anda buka bisnis foodcourt di mall sepi pengunjung, gunakan sitem jemput bola dengan menyebarkan brosur untuk para penjaga toko di Supermarket ini. Jika mereka memesan, antar makanan tersebut. Jangan buat mereka repot untuk mengambil makanan dan minuman dan mengembalikan piring atau gelasnya. Omset Anda akan bertambah dengan menggunakan cara seperti ini.
  4. Perhatikan masalah stok bahan baku. Anda kehabisan stok itu berarti Anda tidak bisa berjualan. Bu Utik punya resepnya. Beliau menggunakan 2 suplier untuk berjaga-jaga. Mereka menerapkan sistem stock 2-3 hari. Perhitungkan juga waktu pengiriman stok bahan baku. Usaha kan jauh-jauh hari Anda sudah memesannya sebelum bahan baku habis. Kondisi jalan dan transportasi yang semakin hari semakin macet bisa membuat pengiriman bahan baku terlambat.
  5. Jika Anda membuka cabang usaha kantin sekolah atau bisnis foodcourt di mall, pilih daerah yang sejalan. Hal ini dimaksudkan supaya Anda mudah dalam melakukan melakukan pengantaran makanan dan pengontrolan usaha.

Well, dalam sehari bu Utik bisa mendapatkan omset 150 hingga 300 ribu rupiah. Jika sedang ramai pengunjung, tiap kantinnya bisa mendapatkan omset 500 ribu rupiah per hari. Setelah dikurangi berbagai macam pengeluaran, bu Utik bisa mendapatkan keuntungan sebesar 10-20% dari total omset seluruh kantinnya.

Nah, berikut ini analisa usaha kantin sekolah dan bisnis foodcourt di mall :

PENDAPATAN :

  • Omset rata-rata per hari : Rp. 250.000,- (sudah termasuk potongan 20% untuk pengelola).
  • Omset rata -rata per bulan Rp 7.500.000,-

PENGELUARAN :

  • Biaya Bahan Baku : 40% x omset = : Rp 3.000.000,-
  • Gaji 1 Karyawan : Rp. 1.500.000,-
  • Biaya Transportasi : Rp 250.000,-
  • Biaya Listrik : Rp. 150.000,-
  • Lain-lain : Rp. 100.000,-
  • Total Biaya : Rp. 5.000.000,-

KEUNTUNGAN :

  • Laba Bersih : Rp. 7.500.000,00 – Rp 5.000.000,00 = Rp. 2.500.000,-
  • Total Laba Bersih : Rp. 2.500.000,- x 6 outlet = Rp. 15.000.000,-

Untung 15 juta sebulan cukup lah buat makan anak-anak… benar kan? So harapan saya, jika Anda tertarik membuka usaha kantin sekolah atau bisnis foodcourt di mall, artikel peluang usaha di atas paling tidak bisa mengilhami Anda. Selain itu juga bisa semakin menambah Anda bersemangat. Jika bu Utik bisa, Anda pun juga bisa kan? Semangat !!

(sumber gambar artikel cara membuka usaha foodcourt, memulai bisnis foodcourt, konsep bisnis foodcourt : cool-food-image.co)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya

About Om Nip-Nip

Tiada gading yang tak retak…begitu pula dengan saya, tidaklah sempurna pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Saya hanya men-sharing-kan apa yang saya lakukan. So, jika anda mempunyai ilmu dan pengalaman bisnis yang bermanfaat, sekali lagi, silahkan tulis komentar Anda. Saya akan dengan senang hati saya menerimanya. Karena ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat itu dilihat bukan dari siapa yang mengatakan, tapi dari apa yang ia katakan.

2 Comments

  1. Deni

    March 11, 2016 at 17:21

    Jadi kepingin nyoba dagang do food court mall, sangat menginspirasi.

  2. ruli

    May 26, 2016 at 15:29

    waah… good info, terima kasih yaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *